Skip to content
kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
Close

Search

kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
Resensi Buku

Ketika Bima Meruwat Dirinya Sendiri: Membaca Kembali Kakawin Sena dalam Kerja Filologi

By Admin
Agustus 22, 2026 8 Min Read
0

[Sumber gambar: Gemini AI]

Penulis: Heri Isnaini

Ada sesuatu yang menarik dari tokoh Bima dalam khazanah sastra Jawa. Ia bukan tokoh yang mudah ditundukkan. Tubuhnya besar, tenaganya luar biasa, suaranya keras, dan keberaniannya hampir selalu tampil sebagai kekuatan yang kasatmata. Namun, di balik tubuh yang perkasa itu, kisah-kisah tentang Bima justru kerap memperlihatkan perjalanan manusia yang sedang mencari bentuk kesempurnaannya. Bima bukan sekadar manusia yang kuat; ia adalah manusia yang diuji.

Di titik inilah penelitian Lilis Restinaningsih, Kakawin Sena (Dalam Tinjauan Filologis) (2009) menjadi menarik. Penelitian tersebut tidak sekadar menghadirkan kembali sebuah teks Jawa Kuna yang tersimpan dalam khazanah naskah Merapi-Merbabu, tetapi juga membuka jalan untuk membaca kembali sosok Sena—nama lain Bima—sebagai figur yang mengalami proses transformasi. Objek penelitian ini adalah dua naskah Kakawin Sena yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, yakni naskah bernomor 154 dan 167. Kedua naskah memiliki kesamaan isi dan cerita, meskipun menunjukkan sejumlah variasi kebahasaan dan tekstual.

Penelitian filologis terhadap naskah seperti ini tentu bukan pekerjaan sederhana. Di dalamnya terdapat persoalan aksara, bahasa, varian bacaan, kondisi naskah, perbedaan penyalinan, hingga persoalan bagaimana menghadirkan teks lama agar dapat dibaca oleh manusia masa kini. Karena itu, Kakawin Sena karya Lilis Restinaningsih pada dasarnya mempertemukan dua dunia: dunia teks yang telah berusia tua dan dunia pembaca modern yang semakin jauh dari bahasa serta tradisi yang melahirkan teks tersebut. Dan justru di antara dua dunia itulah nilai penting penelitian ini berada.

Menyelamatkan Teks dari Kesunyian

Filologi sering kali dipahami secara sederhana sebagai ilmu yang berurusan dengan naskah lama. Pemahaman semacam itu tidak sepenuhnya salah, tetapi terlalu sempit. Dalam praktiknya, filologi adalah usaha menghidupkan kembali teks yang terancam kehilangan pembaca.

Kakawin Sena merupakan bagian dari khazanah naskah Merapi-Merbabu. Penelitian ini menemukan dua naskah dengan judul yang sama di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Dari perbandingan keduanya, peneliti memilih KS1 sebagai naskah dasar untuk penyuntingan karena memiliki sejumlah keunggulan, antara lain lebih lengkap, kondisi fisik lebih baik, tulisan lebih jelas, bahasa lebih mudah dipahami, serta dianggap lebih tua. Penentuan tersebut dilakukan melalui perbandingan kata demi kata dan kelompok kata.

Di sini kita melihat bahwa filologi bukan sekadar “membaca tulisan lama”. Seorang filolog harus berhadapan dengan kemungkinan bahwa teks yang berada di hadapannya bukan lagi teks sebagaimana pertama kali ditulis. Penyalinan dari satu generasi ke generasi berikutnya membuka peluang terjadinya perubahan: huruf dapat tertukar, vokal atau konsonan dapat hilang, kata dapat mengalami perubahan, bahkan struktur metrum dapat menjadi tidak konsisten.

Hal tersebut tampak dalam Kakawin Sena. Penelitian mencatat adanya karakteristik tertentu dalam penulisan naskah Merapi-Merbabu, seperti pertukaran huruf y, w, dan h, pelesapan konsonan atau vokal, pelesapan -ng, serta persoalan penulisan rya.

Dengan demikian, pekerjaan penyuntingan menjadi penting. Teks tidak cukup hanya dipindahkan dari halaman naskah ke halaman penelitian. Ia harus diperiksa, dibandingkan, dan dipertanggungjawabkan.

Penelitian ini bahkan menyajikan dua bentuk suntingan: edisi diplomatik dan edisi dengan perbaikan. Keduanya mempunyai fungsi berbeda. Edisi diplomatik berguna bagi penelitian lebih lanjut, khususnya linguistik, sedangkan edisi dengan perbaikan membantu pembaca memahami teks dan memudahkan proses penerjemahan.

Di sinilah penelitian tersebut memiliki arti penting. Ia tidak hanya menghasilkan teks, tetapi juga menyediakan kemungkinan bagi penelitian berikutnya.

Ketika Kakawin Tidak Sepenuhnya Kakawin

Salah satu temuan paling menarik dalam penelitian ini justru muncul dari persoalan yang tampaknya teknis: apakah Kakawin Sena benar-benar merupakan kakawin?

Kolofon naskah menyebut teks tersebut sebagai kakawin. Akan tetapi, penelitian menunjukkan bahwa KS1 tidak sepenuhnya memenuhi salah satu syarat penting kakawin, yaitu ketepatan metrum berdasarkan panjang-pendek suku kata. Dalam salah satu contoh, baris pertama masih sesuai dengan pola metrum sārdulawikriḍita, sementara baris berikutnya menunjukkan ketidaksesuaian. Penelitian kemudian menyimpulkan bahwa KS1 tidak dapat disebut kakawin secara utuh jika dilihat dari aspek metrum.

Temuan ini penting karena memperlihatkan bahwa sebuah teks tidak selalu dapat diterima begitu saja berdasarkan label yang melekat padanya. Kolofon menyebut “kakawin”, tetapi struktur metrum menghadirkan persoalan lain.

Di sinilah filologi menjadi disiplin yang kritis. Ia tidak sekadar melestarikan istilah yang diberikan oleh naskah, tetapi juga mengujinya.

Barangkali justru di sinilah salah satu pelajaran metodologis paling berharga dari penelitian Lilis: teks lama pun harus dibaca dengan sikap kritis. Apa yang dikatakan naskah perlu diperiksa melalui struktur, bahasa, konteks, dan bukti-bukti tekstual yang tersedia.

Perjalanan Sena di Hutan

Lalu, apa yang sebenarnya diceritakan Kakawin Sena?

Secara garis besar, teks ini berkisah tentang perjalanan Sena di hutan. Penelitian menempatkannya sebagai cuplikan episode dari Nawaruci, khususnya episode ketika Sena melakukan ruwat terhadap dewa yang diturunkan ke bumi agar dapat kembali ke Suralaya, kediaman para dewa.

Dalam perjalanan itu, Sena menghadapi berbagai ujian. Ia berjumpa dengan hantu dan raksasa, menghadapi berbagai bentuk ancaman, hingga akhirnya bertemu dengan Hyang Nini. Pertempuran dahsyat terjadi. Sena kemudian mengucapkan mantra Durga Astuti. Setelah mantra itu diucapkan, Hyang Nini menghilang dan menjelma menjadi Uma atau Dewi Ratih yang memiliki kecantikan luar biasa. Dari peristiwa tersebut Sena memperoleh berbagai anugerah, termasuk ajian, pakaian sakti, nama Bima, serta senjata gada Lohita Wadana.

Pada titik ini, cerita menjadi lebih dari sekadar kisah kepahlawanan. Sena memang menang dalam pertempuran. Namun kemenangan fisik bukan inti paling penting dari kisah tersebut. Yang jauh lebih menarik adalah transformasi.

Sena meruwat Hyang Nini, tetapi proses itu sekaligus meruwat dirinya sendiri. Penelitian menyebut proses tersebut sebagai bentuk inisiasi atau pentahbisan Sena menjadi manusia dengan tingkat kedewasaan yang lebih tinggi.

Dengan kata lain, seseorang yang meruwat orang lain ternyata sedang menjalani proses peruwatan atas dirinya sendiri. Di sinilah Kakawin Sena menjadi sangat menarik apabila dibaca melampaui kerangka filologis semata.

Ruwat sebagai Transformasi Manusia

Dalam kebudayaan Jawa, ruwat berkaitan dengan usaha membebaskan manusia dari sengkala, kesialan, atau keadaan tertentu yang dianggap menghambat ketenteraman hidup. Penelitian menghubungkan fungsi ruwat dalam teks dengan praktik budaya masyarakat Jawa.

Namun dalam Kakawin Sena, ruwat memiliki lapisan makna yang lebih kompleks. Sena tidak hanya membebaskan Hyang Nini dari kondisi kedewaannya yang terkutuk atau problematis; ia sendiri mengalami perubahan melalui tindakan tersebut. Ruwat dengan demikian dapat dibaca sebagai ritual transformasi.

Manusia yang meruwat bukan lagi manusia yang sama setelah ritual selesai. Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya: pengetahuan, kedewasaan, tanggung jawab, bahkan status spiritual.

Penelitian juga mengaitkan proses tersebut dengan konsep inisiasi, yaitu perpindahan manusia dari satu tahap kehidupan menuju tahap berikutnya. Dalam konteks budaya Jawa, inisiasi dapat ditemukan dalam berbagai upacara yang menandai perubahan fase kehidupan manusia.

Maka, perjalanan Sena dapat dibaca sebagai perjalanan seorang manusia menuju bentuk dirinya yang baru. Ia memasuki hutan sebagai Sena. Ia keluar dari pengalaman tersebut sebagai Bima yang memperoleh nama, ajian, dan senjata.

Hutan dalam konteks ini bukan sekadar ruang geografis. Ia adalah ruang ujian, ruang antara, semacam wilayah liminal tempat identitas lama diuji sebelum identitas baru lahir.

Di Antara Nawaruci, Wayang, dan Tradisi Lisan

Penelitian ini juga membuka kemungkinan intertekstualitas yang menarik. Cerita tentang Sena yang mengalami ruwat dapat ditemukan dalam Nawaruci maupun Dewaruci. Namun, penelitian mencatat bahwa dalam cerita tertulis yang ditemukan, belum pernah dijumpai kisah Sena meruwat Hyang Nini. Tokoh Pandawa yang meruwat Hyang Nini justru Nakula dan Sadewa dalam Kidung Sudamala dan Kidung Sri Tanjung.

Pada saat yang sama, tradisi wayang mengenal Sena sebagai tokoh yang kerap melakukan ruwat terhadap berbagai dewa. Bahkan cerita tentang Sena meruwat dapat digunakan dalam upacara ruwatan untuk menolak bala atau mengusir sengkala. Dari sini peneliti menduga adanya kemungkinan bahwa Kakawin Sena memiliki hubungan dengan cerita wayang. Namun kemungkinan tersebut belum dapat dipastikan dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Bagian ini justru menunjukkan salah satu kekuatan penelitian: ia tidak memaksakan kesimpulan ketika bukti belum memadai. Dalam penelitian filologi, kehati-hatian seperti itu penting. Dugaan mengenai hubungan antara teks tertulis dan tradisi lisan memang menarik, tetapi dugaan tidak boleh segera berubah menjadi kesimpulan. Penelitian Lilis berhenti pada kemungkinan dan membuka ruang bagi penelitian berikutnya.

Kekuatan dan Keterbatasan

Sebagai penelitian filologis, Kakawin Sena memiliki beberapa kekuatan utama. Pertama, penelitian ini berhasil menghadirkan kembali teks yang relatif kurang dikenal. Kedua, adanya dua naskah memungkinkan dilakukannya perbandingan tekstual. Ketiga, penyajian edisi diplomatik dan edisi dengan perbaikan memberikan manfaat bagi pembaca sekaligus peneliti lain. Keempat, penelitian tidak berhenti pada kritik teks, tetapi juga menerjemahkan dan membahas fungsi teks.

Namun, penelitian ini juga mempunyai keterbatasan yang justru diakui oleh penulisnya sendiri. Dalam bagian saran, peneliti menyatakan bahwa penanganan teks belum maksimal karena keterbatasan pengalaman dan pengetahuan mengenai sastra Jawa Kuna dan bahasa Jawa Kuna. Penelitian tersebut karena itu membuka kemungkinan untuk dilakukan penelitian ulang apabila ditemukan naskah sejenis yang lebih baik atau apabila ditemukan kesalahan dalam penyuntingan sebelumnya.

Pengakuan tersebut tidak harus dibaca sebagai kelemahan yang meruntuhkan penelitian. Sebaliknya, ia memperlihatkan bahwa penelitian filologi merupakan pekerjaan yang terbuka. Sebuah edisi kritis bukanlah titik akhir. Ia dapat diperiksa, dibandingkan, diperbaiki, bahkan disunting ulang ketika bukti baru ditemukan.

Dengan demikian, nilai penelitian ini bukan hanya pada hasil akhirnya, tetapi juga pada jalan yang dibukanya.

Membaca Naskah Lama dengan Mata Hari Ini

Barangkali persoalan terbesar naskah-naskah lama bukanlah bahwa teks tersebut sulit dipahami. Persoalan yang lebih mendasar adalah semakin sedikit orang yang merasa bahwa teks lama mempunyai hubungan dengan kehidupannya.

Kakawin Sena memperlihatkan sebaliknya. Di dalamnya ada perjalanan, ketakutan, kekuatan, ujian, perubahan, pembebasan, dan pencarian kesempurnaan. Semua itu masih merupakan persoalan manusia hari ini.

Kita mungkin tidak lagi memasuki hutan untuk berhadapan dengan raksasa. Kita tidak lagi menerima ajian setelah mengucapkan mantra. Tetapi kita tetap memasuki “hutan” dalam bentuk yang berbeda: kegagalan, kehilangan, kebingungan, krisis identitas, perubahan pekerjaan, kehilangan orang yang dicintai, atau pertanyaan mengenai siapa diri kita sebenarnya.

Karena itu, kisah Sena dapat dibaca sebagai alegori perjalanan manusia. Yang menarik, kesempurnaan Sena tidak datang hanya karena ia memiliki kekuatan. Ia memperoleh perubahan setelah melewati ujian dan menjalankan tindakan ruwat. Artinya, kekuatan tidak identik dengan kesempurnaan.

Seorang manusia dapat menjadi kuat tetapi belum selesai dengan dirinya. Sena memperlihatkan bahwa seseorang baru bergerak menuju kedewasaan ketika kekuatan itu mampu digunakan untuk mengubah—bukan hanya dunia di luar dirinya, tetapi juga dirinya sendiri.

Penutup: Meruwat Diri melalui Teks

Pada akhirnya, penelitian Lilis Restinaningsih tentang Kakawin Sena penting bukan semata-mata karena berhasil menyunting sebuah naskah lama. Nilai terbesarnya terletak pada usaha mengembalikan sebuah teks dari ruang penyimpanan menuju ruang pembacaan.

Dua naskah yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari koleksi Perpustakaan Nasional kemudian dibandingkan, disunting, diterjemahkan, dan dibaca kembali.

Di sana, filologi menjalankan fungsi kebudayaannya: menjembatani masa lalu dan masa kini. Dan Kakawin Sena memberikan kepada kita sebuah paradoks yang indah: orang yang melakukan ruwat terhadap orang lain ternyata mengalami ruwat terhadap dirinya sendiri.

Mungkin demikian pula dengan membaca naskah lama. Kita mengira sedang menyelamatkan teks dari masa lalu. Padahal, bisa jadi teks itulah yang sedang menyelamatkan sesuatu dalam diri kita—ingatan tentang cara manusia Nusantara memahami kehidupan, perubahan, kesialan, kedewasaan, dan kesempurnaan.

Sena masuk ke dalam hutan sebagai manusia yang kuat. Ia keluar sebagai manusia yang telah berubah. Dan pembaca yang masuk ke dalam Kakawin Sena mungkin juga tidak keluar sebagai pembaca yang sama. Sebab setiap teks yang sungguh-sungguh hidup selalu menyimpan kemungkinan untuk meruwat pembacanya.

Penulis
Heri Isnaini, dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak.
Author

Admin

Follow Me
Other Articles
Previous

Dari Denpasar untuk Pameungpeuk: Membawa Pulang Gagasan tentang Sekolah Berbudaya Riset

Next

Puisi-Puisi Zahra Nur Alfiyah

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Situs Ini

Kelindan Kata [Membaca Teks, Menafsir Zaman] adalah media Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan yang dikelola oleh tim akademisi dan penulis. Kami hadir untuk menyediakan ruang berbagi karya, pemikiran, dan penelitian dalam bentuk opini, esai, dan artikel ringan dalam banyak rubrik. ilmiah, Dengan tujuan memperkaya khazanah literasi Indonesia, situs ini terbuka untuk mahasiswa, dosen, peneliti, maupun masyarakat umum yang ingin menyalurkan ide dan karyanya.

Cari

Temukan Kami

Alamat

Jalan Babakan Ciparay No. 320, Kota Bandung, Jawa Barat 40233

Email 

heri.press17@gmail.com / komunitaskembangsepatu@gmail.com

Jam Buka
Senin—Jumat: 09:00–17:00
Sabtu & Minggu: 10:00–15:00

Redaksi

  • Tentang Website
  • Visi dan Misi
  • FAQ

Kebijakan

  • Pedoman Penulisan
  • Etika Publikasi

Mari Berkontribusi

  • Kontak
  • Menjadi Penulis Kelindan Kata
  • Donasi
Copyright 2026 — kelindan kata. All rights reserved.