Dari Denpasar untuk Pameungpeuk: Membawa Pulang Gagasan tentang Sekolah Berbudaya Riset

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Herman Priatna
Bali selalu menyediakan banyak alasan untuk dikenang. Lautnya, pura-puranya, tariannya, serta cara masyarakatnya merawat tradisi membuat setiap perjalanan ke Pulau Dewata mudah berubah menjadi kumpulan cerita. Namun, dalam perjalanan National Field Study Pascasarjana IKIP Siliwangi pada awal Agustus 2026, kesan yang paling kuat bagi saya justru tidak lahir di tepi Pantai Melasti, di tengah keramaian Tanah Lot, ataupun ketika menyaksikan Tari Kecak. Kesan itu tumbuh di sebuah sekolah di Kota Denpasar.
Pagi itu, rombongan kami mengunjungi SMA Negeri 3 Denpasar. Dalam sambutannya, kepala sekolah menjelaskan berbagai program dan karakter akademik yang dikembangkan sekolah. Saya tidak lagi mengingat istilah persis yang beliau gunakan. Namun, dari pemaparannya, saya menangkap satu gambaran yang kuat: sekolah tersebut telah membangun lingkungan belajar yang dekat dengan tradisi penelitian.
Kesan itu semakin terasa ketika kami mengetahui bahwa murid kelas XII harus menyelesaikan karya ilmiah sebagai salah satu persyaratan kelulusan. Mereka tidak hanya mengikuti pembelajaran di kelas, tetapi juga belajar menemukan persoalan, mengajukan judul, mencari informasi, melakukan penyelidikan, dan menyajikan hasilnya dalam tulisan. Penelitian bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan telah menjadi bagian dari pengalaman belajar murid.
Sebagai seorang guru, saya merasa tertarik sekaligus terusik. Selama ini, sekolah lebih sering dipahami sebagai tempat murid menerima pengetahuan yang telah tersedia. Guru menyampaikan materi, murid mencatat dan mengerjakan tugas, kemudian keberhasilan belajar diukur melalui ujian. Akan tetapi, pengalaman di SMA Negeri 3 Denpasar menunjukkan kemungkinan yang berbeda: sekolah dapat menjadi tempat murid belajar mengajukan pertanyaan, mencari bukti, mengolah informasi, dan menghasilkan pengetahuan berdasarkan penyelidikannya sendiri.
Kunjungan tersebut akhirnya tidak lagi terasa sebagai bagian dari agenda perjalanan akademik semata. Ia berubah menjadi cermin untuk melihat kembali praktik pendidikan yang selama ini berlangsung. Dari sebuah sekolah di Denpasar, muncul pertanyaan yang terus mengikuti perjalanan pulang saya: mungkinkah budaya riset semacam ini mulai ditumbuhkan di sekolah tempat saya mengajar di Pameungpeuk?

Dari Ekstrakurikuler Menuju Tradisi Akademik
Jawaban atas pertanyaan itu mulai saya temukan ketika memasuki Perpustakaan Widya Mahottama. Di antara rak-rak buku dan karya murid yang tersimpan di sana, saya berbincang dengan petugas perpustakaan mengenai perjalanan program karya ilmiah di SMA Negeri 3 Denpasar. Dari percakapan tersebut, saya mengetahui bahwa tradisi yang kini menjadi bagian dari kehidupan akademik sekolah itu tidak langsung lahir sebagai program besar.
Menurut penuturannya, kegiatan penelitian awalnya tumbuh melalui ekstrakurikuler karya ilmiah remaja. Pada mulanya, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi murid yang memiliki minat khusus terhadap penelitian. Mereka belajar mengenali persoalan, mengumpulkan informasi, melakukan penyelidikan, dan menuliskan hasilnya. Dari ruang kecil itulah kemudian muncul gagasan yang lebih besar: pengalaman meneliti seharusnya tidak hanya dimiliki oleh anggota ekstrakurikuler, tetapi dapat dirasakan oleh seluruh murid.
Gagasan itu berkembang pada masa kepemimpinan Drs. Ketut Suyastra, M.Pd. Jejak digital menunjukkan bahwa setidaknya pada 2012 sekolah telah memiliki pedoman khusus penulisan tugas akhir bagi murid. Dalam pedoman tersebut, karya tulis menjadi bagian dari persyaratan akademik yang harus diselesaikan sebelum murid memperoleh nomor peserta Ujian Nasional. Fakta ini menunjukkan bahwa tradisi penelitian di sekolah tersebut telah dibangun ketika Ujian Nasional masih menjadi salah satu penanda penting kelulusan.
Identitas tersebut semakin jelas dalam sebuah pemberitaan pada 2017. Ketut Suyastra menyebut SMA Negeri 3 Denpasar sebagai “sekolah riset”. Sebutan itu bukan sekadar semboyan. Sekolah menyediakan pembinaan, fasilitas, serta jejaring yang mendukung kegiatan penelitian murid. Karya ilmiah tidak hadir sebagai kegiatan insidental ketika akan mengikuti perlombaan, tetapi tumbuh melalui proses yang dibentuk dan dipelihara.
Tradisi itu terus berkembang melewati pergantian kepemimpinan. Berdasarkan penjelasan petugas perpustakaan, murid kini mengajukan tiga calon judul untuk dibicarakan bersama guru pembimbing. Mereka mengikuti matrikulasi, menggunakan pedoman dan format penulisan yang disediakan, kemudian menjalani proses penelitian serta penyusunan naskah. Guru dari berbagai mata pelajaran turut terlibat dalam pembimbingan sesuai dengan bidang kajian yang dipilih murid.
Bentuk karyanya pun mengalami perubahan. Karya tulis yang sebelumnya disusun dalam format konvensional kini diarahkan menjadi artikel dengan format e-jurnal. Pola kelompok juga dievaluasi. Jika sebelumnya satu karya dikerjakan oleh lima murid, kini jumlahnya diperkecil menjadi tiga orang. Perubahan tersebut dapat dibaca sebagai upaya memperbesar ruang keterlibatan dan tanggung jawab setiap anggota kelompok.
Perjalanan dari ekstrakurikuler menuju program sekolah, dari karya tulis konvensional menuju e-jurnal, serta dari kelompok besar menuju kelompok yang lebih kecil memperlihatkan bahwa budaya riset tidak lahir melalui satu kebijakan yang selesai dalam semalam. Ia bertumbuh karena ada keberanian untuk memulai, kesediaan untuk mengevaluasi, dan ketekunan untuk menjaganya agar tidak berhenti sebagai program sesaat.
Di perpustakaan itu, saya akhirnya tidak lagi melihat karya-karya murid sebagai tumpukan dokumen yang disimpan setelah penilaian selesai. Setiap naskah merupakan jejak perjumpaan seorang murid dengan persoalan yang pernah membuatnya penasaran. Mungkin tidak semuanya menghasilkan penelitian yang sempurna. Namun, setidaknya mereka pernah mengalami sebuah proses penting: belajar bahwa pendapat tidak cukup hanya diucapkan, tetapi perlu diperkuat oleh bukti dan dipertanggungjawabkan melalui tulisan.

Ketika Murid Tidak Hanya Menerima Pengetahuan
Karya-karya yang saya lihat di Perpustakaan Widya Mahottama menghadirkan pemahaman lain tentang kedudukan murid dalam pembelajaran. Mereka tidak hanya diminta mempelajari pengetahuan yang telah tersedia, tetapi juga diberi kesempatan untuk menemukan persoalan, menyusun pertanyaan, mencari data, dan menghasilkan pengetahuan melalui penyelidikan mereka sendiri.
Selama ini, kegiatan belajar di sekolah masih sering bergerak dalam pola yang hampir seragam. Guru menjelaskan, murid mencatat, lalu pemahaman mereka diperiksa melalui tugas dan ujian. Pola tersebut tentu tetap diperlukan. Namun, apabila pembelajaran berhenti di sana, murid dapat terbiasa menunggu jawaban tanpa mengalami kegelisahan untuk mengajukan pertanyaan. Penelitian membalik kebiasaan itu. Prosesnya tidak dimulai dengan jawaban yang harus dihafalkan, melainkan dengan persoalan yang perlu dipikirkan.
Di sinilah saya melihat nilai terpenting dari penulisan karya ilmiah. Nilainya tidak semata-mata terletak pada tebalnya naskah, kecanggihan judul, ataupun kerumitan metode penelitian yang digunakan. Hal yang lebih penting adalah kebiasaan berpikir yang tumbuh selama prosesnya. Murid belajar bahwa dugaan harus diperiksa, informasi perlu dibandingkan, pendapat mesti didukung oleh bukti, dan kesimpulan harus dapat dipertanggungjawabkan.
Kebiasaan tersebut semakin diperlukan ketika murid hidup di tengah arus informasi digital yang datang tanpa henti. Setiap hari mereka berhadapan dengan berita, video pendek, unggahan media sosial, komentar, serta berbagai pendapat yang sering mencampuradukkan fakta dan asumsi. Pengalaman meneliti dapat melatih mereka untuk tidak mudah menerima informasi begitu saja. Mereka dibiasakan bertanya: dari mana informasi ini berasal, bukti apa yang mendukungnya, dan apakah kesimpulan yang disampaikan benar-benar dapat dipercaya?
Sebagai guru Bahasa Indonesia, saya juga melihat penelitian sebagai proses belajar berbahasa yang utuh. Murid membaca untuk menemukan informasi, menyimak penjelasan, berdiskusi untuk menguji gagasan, melakukan wawancara untuk mengumpulkan data, kemudian menulis untuk menyampaikan hasil penyelidikannya. Bahasa tidak lagi sekadar menjadi materi pelajaran yang dipenuhi istilah dan kaidah, tetapi benar-benar digunakan sebagai alat untuk berpikir serta membangun pengetahuan.
Pengalaman tersebut membuat saya melihat kembali berbagai tugas menulis yang selama ini diberikan kepada murid. Tidak jarang kita lebih sibuk menilai kelengkapan struktur, ketepatan ejaan, jumlah paragraf, atau kerapian penyajian. Semua itu memang penting. Namun, tulisan seharusnya tidak kehilangan alasan utama mengapa ia dibuat. Murid perlu merasakan bahwa mereka menulis karena mempunyai sesuatu untuk dipikirkan, ditemukan, dan disampaikan kepada orang lain.
Tentu saja, tidak semua murid kelak akan menjadi peneliti. Akan tetapi, setiap murid akan hidup di tengah berbagai persoalan yang menuntut kemampuan berpikir jernih. Mereka perlu belajar membedakan fakta dan pendapat, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, serta mengambil keputusan berdasarkan alasan yang masuk akal. Karena itu, pengalaman melakukan penelitian tetap memiliki nilai, apa pun jalan hidup yang nantinya mereka pilih.
Namun, sebuah kewajiban menulis karya ilmiah tidak dengan sendirinya melahirkan budaya riset. Tanpa pendampingan yang memadai, kebiasaan membaca, akses terhadap sumber, dan ruang untuk berdiskusi, karya ilmiah justru dapat berubah menjadi beban administratif yang dikerjakan sekadar untuk menggugurkan kewajiban.

Agar Karya Ilmiah Tidak Menjadi Sekadar Kewajiban
Kewajiban selalu memiliki dua wajah. Di satu sisi, ia dapat membuka kesempatan agar seluruh murid mengalami proses belajar yang sebelumnya hanya dinikmati oleh segelintir orang. Di sisi lain, kewajiban juga dapat mengubah kegiatan yang bermakna menjadi daftar pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Hal serupa dapat terjadi pada penulisan karya ilmiah.
Apabila keberhasilan hanya diukur dari terkumpulnya naskah, murid mungkin akan lebih sibuk mengejar penyelesaian daripada memahami proses penelitian. Pembagian kerja dilakukan sekadar untuk menyelesaikan bagian masing-masing, data dikumpulkan tanpa benar-benar dipahami, sedangkan kesimpulan ditulis hanya agar karya terlihat lengkap. Dalam keadaan seperti itu, penelitian berisiko kehilangan ruhnya dan berubah menjadi tugas administratif menjelang kelulusan.
Risiko tersebut semakin besar pada zaman ketika informasi begitu mudah disalin dan sebuah tulisan yang tampak rapi dapat dihasilkan dalam waktu singkat dengan bantuan teknologi. Tantangan sekolah bukan lagi sekadar memastikan murid menyerahkan karya, tetapi memastikan bahwa mereka benar-benar mengalami proses berpikir di balik karya tersebut. Guru perlu mengenali bagaimana pertanyaan dirumuskan, data diperoleh, pilihan dibuat, kesalahan ditemukan, dan pemikiran diperbaiki.
Karena itu, budaya riset tidak cukup dibangun melalui satu kalimat: setiap murid wajib membuat karya ilmiah. Ia memerlukan budaya membaca, ketersediaan sumber belajar, waktu yang cukup, pendampingan guru, serta ruang yang aman bagi murid untuk bertanya dan melakukan kesalahan. Penelitian bukan jalan lurus yang selalu menghasilkan jawaban sesuai harapan. Ada data yang tidak cocok, metode yang perlu diperbaiki, dan kesimpulan yang harus ditinjau kembali. Justru melalui proses itulah murid belajar tentang ketekunan dan kejujuran akademik.
Dalam konteks tersebut, mekanisme yang dikembangkan SMA Negeri 3 Denpasar menjadi penting. Pengajuan beberapa calon judul, kegiatan matrikulasi, keterlibatan guru dari berbagai mata pelajaran, penyediaan pedoman penulisan, serta pembatasan jumlah anggota kelompok bukan sekadar urusan teknis. Semua itu merupakan bagian dari ekosistem yang berusaha memastikan bahwa murid tidak berjalan sendirian ketika melakukan penelitian.
Penilaiannya pun seharusnya tidak hanya bertumpu pada tampilan akhir sebuah naskah. Catatan proses, perubahan rumusan masalah, hasil konsultasi, draf yang direvisi, cara mengolah data, dan kemampuan menjelaskan temuan merupakan bagian yang tidak kalah penting. Naskah yang belum sempurna tetapi lahir dari proses berpikir yang jujur jauh lebih bernilai daripada tulisan yang tampak meyakinkan tetapi tidak benar-benar dipahami oleh murid yang namanya tercantum sebagai penulis.
Pada akhirnya, tujuan karya ilmiah di sekolah bukanlah menghasilkan peneliti muda dalam jumlah sebanyak-banyaknya. Tujuannya adalah memberi murid kesempatan untuk mengalami sebuah perjalanan intelektual: berangkat dari rasa ingin tahu, berhadapan dengan keraguan, mencari bukti, memperbaiki kesalahan, lalu menyampaikan pemikirannya secara bertanggung jawab. Jika proses itu terjaga, karya ilmiah tidak lagi menjadi sekadar syarat kelulusan, tetapi menjadi pengalaman belajar yang mungkin terus mereka ingat setelah meninggalkan sekolah.
Pertanyaannya kemudian bukan apakah pola di Denpasar harus disalin seluruhnya. Setiap sekolah memiliki keadaan, sumber daya, dan kebutuhan yang berbeda. Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagian mana dari semangat tersebut yang dapat dibawa pulang dan mulai ditumbuhkan sesuai dengan keadaan sekolah kita sendiri?
Membawa Pulang Gagasan ke Pameungpeuk
Bagi saya, jawabannya bukan dengan segera menjadikan karya ilmiah sebagai persyaratan kelulusan di sekolah tempat saya mengajar. SMA Negeri 3 Denpasar membangun tradisinya melalui perjalanan panjang, sedangkan setiap sekolah memiliki kesiapan, sumber daya, dan karakter murid yang berbeda. Menyalin bentuk akhirnya tanpa memahami proses pertumbuhannya justru dapat melahirkan kewajiban baru yang belum tentu bermakna.
Hal yang lebih mungkin dibawa pulang adalah semangat dasarnya: membiasakan murid bertanya, mencari bukti, dan menyampaikan hasil pemikirannya. Budaya riset tidak harus selalu dimulai dengan proposal yang tebal, istilah metodologis yang rumit, atau penelitian dalam skala besar. Bagi murid SMP, ia dapat tumbuh dari keingintahuan terhadap persoalan sederhana yang berada di sekitar mereka.
Murid dapat mengamati kebiasaan membaca di kelas, penggunaan plastik di lingkungan sekolah, pola pemilihan jajanan, kebersihan ruang belajar, penggunaan bahasa dalam pergaulan, ataupun cerita tentang kehidupan masyarakat di sekitar Pameungpeuk. Dari persoalan tersebut, mereka belajar merumuskan pertanyaan sederhana, membaca sumber yang relevan, melakukan pengamatan atau wawancara, mencatat temuan, lalu menyampaikan hasilnya dalam bentuk tulisan.
Pembiasaan itu dapat dimulai melalui pembelajaran Bahasa Indonesia. Artikel populer digital dapat digunakan sebagai pemantik untuk menemukan persoalan sekaligus sebagai sumber informasi awal. Setelah membaca, murid tidak berhenti pada kegiatan menjawab pertanyaan tentang isi teks. Mereka dapat diajak memeriksa informasi, membandingkannya dengan keadaan di sekitar, melakukan penyelidikan sederhana, kemudian menuliskan temuannya dalam bentuk laporan, artikel populer, teks deskripsi, teks eksplanasi, atau teks persuasif.
Dengan cara tersebut, pelajaran menulis tidak lagi dimulai dari perintah, “Buatlah sebuah teks,” yang sering membuat murid menatap halaman kosong tanpa tahu apa yang hendak disampaikan. Mereka terlebih dahulu mempunyai pengalaman, data, dan bahan untuk dipikirkan. Tulisan kemudian lahir sebagai kebutuhan untuk mengabarkan sesuatu yang telah ditemukan, bukan sekadar sebagai jawaban atas tugas yang diberikan guru.
Langkahnya tentu tidak harus langsung besar. Saya dapat memulainya dari satu kegiatan sederhana di satu kelas, mengamati prosesnya, kemudian memperbaikinya pada kesempatan berikutnya. Murid juga tidak harus menghasilkan karya yang sempurna. Hal yang perlu dijaga adalah kejujuran dalam memperoleh data, keberanian mengajukan pertanyaan, kesungguhan mengikuti proses, dan kemampuan menjelaskan apa yang mereka temukan.
Jika kebiasaan tersebut mulai tumbuh, kolaborasi dapat diperluas. Guru dari mata pelajaran lain dapat membantu sesuai dengan tema yang dikaji, sedangkan perpustakaan dapat dikembangkan bukan hanya sebagai tempat meminjam buku, tetapi juga sebagai ruang membaca, berdiskusi, dan menyimpan karya murid. Karya-karya sederhana itu dapat dipresentasikan, dipajang, atau dihimpun secara digital agar murid merasakan bahwa tulisan mereka mempunyai pembaca dan tidak berakhir di meja guru setelah diberi nilai.
Saya tidak pulang dari Denpasar dengan membawa rancangan untuk mendirikan “sekolah riset” secara tiba-tiba. Saya membawa pulang sebuah cara pandang: budaya riset dapat dimulai dari ruang kelas, dari persoalan yang dekat dengan kehidupan murid, dan dari seorang guru yang bersedia memberi kesempatan kepada mereka untuk mencari jawaban sendiri. Barangkali dari langkah-langkah kecil itulah suatu hari akan tumbuh tradisi akademik yang sesuai dengan wajah dan kebutuhan sekolah kami di Pameungpeuk.

Perjalanan yang Justru Baru Dimulai
Pada akhirnya, sebuah perjalanan akademik semestinya tidak berakhir ketika seluruh foto telah tersimpan, laporan selesai disusun, dan rombongan kembali ke tempat asal. Perjalanan menemukan maknanya ketika sesuatu yang kita lihat di tempat lain mengubah cara kita memandang apa yang selama ini dikerjakan.
Dari SMA Negeri 3 Denpasar, saya belajar bahwa budaya akademik tidak lahir hanya karena sekolah memberinya sebuah nama. Ia dibangun melalui kebiasaan yang dirawat dalam waktu panjang, keberanian memulai dari sesuatu yang kecil, keterlibatan banyak pihak, serta kesediaan untuk terus memperbaiki prosesnya. Karya ilmiah hanyalah bentuk yang tampak. Di belakangnya terdapat ikhtiar untuk membiasakan murid bertanya, menyelidiki, dan mempertanggungjawabkan pemikirannya.
Saya juga menyadari bahwa membawa pulang sebuah gagasan tidak selalu berarti memindahkan seluruh program dari satu sekolah ke sekolah lain. Ada keadaan yang berbeda, sumber daya yang perlu dipertimbangkan, dan kebutuhan murid yang tidak selalu sama. Hal yang dapat dilakukan adalah mengambil semangatnya, kemudian menumbuhkannya secara perlahan dalam ruang yang kita miliki.
Barangkali perubahan itu dapat dimulai ketika seorang guru tidak terlalu cepat memberikan jawaban. Ia memberi waktu kepada murid untuk bertanya, mengamati, membaca, berdiskusi, dan menemukan sesuatu melalui usahanya sendiri. Mungkin hasilnya belum berupa karya ilmiah yang sempurna. Namun, ketika murid mulai terbiasa memeriksa informasi, mencari bukti, dan menuliskan pemikirannya dengan jujur, benih budaya riset sesungguhnya telah ditanamkan.
Dalam perjalanan pulang, Bali tetap tinggal dalam ingatan melalui laut, pura, tarian, dan keramaian tempat wisatanya. Namun, ada sesuatu yang tidak dapat dimasukkan ke dalam koper dan tidak selesai hanya dengan diabadikan melalui foto: sebuah pertanyaan tentang bagaimana sekolah seharusnya memperlakukan rasa ingin tahu murid.
Saya berangkat ke Denpasar membawa agenda kunjungan akademik. Saya pulang ke Pameungpeuk membawa sebuah kegelisahan sekaligus harapan. Perjalanannya memang telah selesai, tetapi upaya untuk menumbuhkan kebiasaan bertanya, menyelidiki, dan menulis di ruang kelas saya justru baru dimulai.
Penulis
Herman Priatna lahir di Bandung, 11 November 1982, dan tumbuh di Ciluncat, Kabupaten Bandung. Ia merupakan pendidik Bahasa Indonesia yang menempuh pendidikan di STKIP Bale Bandung dan kini melanjutkan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia di IKIP Siliwangi. Sejak 2005, Herman telah mengabdikan diri sebagai guru di berbagai jenjang sekolah dan aktif dalam kegiatan literasi, MGMP, FLS2N, Gebyar Bahasa, serta pembinaan siswa. Dedikasinya dalam menciptakan pembelajaran kreatif mengantarkannya meraih Juara III Lomba Guru Bukti Karya Pembelajaran pada Gebyar Bahasa dan Sastra Indonesia. Selain mengajar, ia memiliki perhatian kuat terhadap literasi, keterampilan menulis, dan pembelajaran berbasis masalah. Bagi Herman, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan untuk terus belajar, berbagi, dan membentuk generasi yang literat, reflektif, kreatif, serta berdaya saing.
mantap pa herman, sigana mun ngiring ka bali seru hhe
seru atuh, pokona mantap
ikut pak