Skip to content
kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
Close

Search

kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
Puisi

Puisi-Puisi Heri Isnaini

By Admin
Agustus 3, 2026 3 Min Read
0
SONETA DI TANAH LOT
untuk Yulia Herliani

Tanah Lot menyalakan petang dari akar ombak:
matahari menggantungkan jingganya pada batu tua
di sela garam yang sibuk menenun jarak
kucari suaramu seperti laut mencari muara.

barangkali angin Bali lebih fasih mengenal namamu:
daripada bibirku yang menyimpannya dalam diam
ia mengikat rindumu dengan bau cendana senja
lalu melepaskannya menjadi doa menembus nirwana

burung-burung pulang membawa langit di paruhnya
sedang aku hanya memelihara bayang-bayang langkahmu
ombak tak lagi pecah pada karang: ia diam-diam memanggilmu

jika Tanah Lot menjagamu hingga malam usai
izinkan rinduku menjadi laut dan ombak saja
agar Tuhan selalu berada di antara kita: bukan di antara jarak


2026



SAJAK-SAJAK TENTANG LAUT
untuk Yulia Herliani

di Nusa Penida tebing berdiri tanpa riwayat kemenangan:
laut menyimpan usia yang tak pernah selesai dihitung batu
burung-burung melintas membawa pagi di bawah sayapnya
sedang namamu berpindah ke dalam cara napasku bekerja.

malam naik perlahan dari pasir yang basah
membuka jendela-jendela langit tanpa engsel cahaya
aku melihat ombak menghapus jejaknya sendiri
seakan pulang adalah pekerjaan yang tak pernah selesai.

Tanah Lot tidak meminta laut mengingatnya
ia cukup menjadi karang yang sabar menerima pecah
barangkali kasih memang tumbuh demikian:
diam lebih lama daripada kata-kata.
di rambutmu senja menyembunyikan aroma melati
angin belajar menjadi tua tanpa kehilangan arah
lingkar tari kecak membakar gelap dari dalam suaranya
sementara aku menyebut namamu tanpa menggerakkan bibir.

aku tak lagi menghitung berapa musim rindu singgah
ia selalu menemukan rumah, bahkan ketika aku tersesat.

kelak, jika Tuhan bertanya di mana laut berakhir?
aku akan menunjuk matamu
sebab di sanalah aku tak pernah berakhir


2026


SETELAH LAUT SELESAI BERDOA
untuk Yulia Herliani

/1/
Tanah Lot menyimpan petang di dalam pori-pori batunya. Sejak mula karang mengetahui bahwa cahaya tidak pernah benar-benar tenggelam: ia hanya berpindah ke ingatan laut. Aku memanggil namamu dari seberang pulau, tetapi angin lebih dahulu menemukannya. Ia menjahit suaramu pada garam, lalu membiarkan ombak menghafalkannya berulang-ulang. Sejak saat itu laut tak lagi berwarna biru. Laut berubah menjadi cara paling sunyi untuk menyebutmu.
Di Nusa Penida tebing tidak berdiri: ia sedang menahan waktu agar tidak runtuh sekaligus. Burung-burung melintas tanpa meninggalkan langit, sedangkan aku melintas dari pagi ke pagi tanpa pernah meninggalkan namamu. Batu-batu tidak mengajarkanku keteguhan. Airlah yang melakukannya. Berkali-kali pecah, berkali-kali hilang bentuk, tetapi tak pernah lupa jalan kembali. Barangkali rindu memang tidak diciptakan untuk menyakitkan. Ia diciptakan agar hati belajar mengikuti tabiat laut.

/2/
Nusa Dua membuka pasirnya. Butir-butirnya membaca setiap telapak yang singgah, lalu menyimpannya ke dalam ingatan yang tak pernah meminta dikenang. Ombak datang menghapus semua tulisan itu, bukan karena lupa, melainkan karena kasih tak pernah membutuhkan prasasti. Yang sungguh-sungguh mencintai selalu tahu kapan harus tinggal dan kapan harus menjadi hilang. Sejak itu aku percaya, yang paling setia bukanlah kata-kata, melainkan diam yang tetap menjaga maknanya.
Malam kemudian menyalakan lingkar tari kecak. Api berdiri di tengah manusia, sementara suara-suara mengitari nyalanya hingga gelap kehilangan tempat bersembunyi. Aku tidak sedang mendengar kisah Rama. Aku mendengar waktu memanggil setiap orang kembali kepada cahaya yang pernah ditinggalkannya. Di tengah ribuan suara itu, hanya namamulah yang tidak memerlukan bunyi. Ia sampai kepadaku sebagaimana doa sampai kepada Tuhan: tanpa langkah, tanpa jalan, tanpa terlambat.

/3/
Kini kau berada di Bali, sedangkan aku tinggal bersama benda-benda yang diam-diam mengingatmu. Cangkir masih menyimpan lengkung bibirmu. Jendela masih membuka tubuhnya ke arah matahari yang sama. Lipatan sajadah belum selesai melipat sujudmu. Bahkan rumah ini mulai memanggilku dengan suaramu, seakan dinding-dinding telah lama bersepakat bahwa kehadiran tidak selalu memerlukan tubuh.
Barangkali benar, laut tidak diciptakan untuk memisahkan pulau. Laut diciptakan agar setiap daratan belajar bahwa pulang bukan soal jarak, melainkan kesetiaan menjaga arah. Maka aku tak pernah benar-benar menghitung hari kepulanganmu. Sebab yang berangkat hanyalah tubuhmu: seluruh rumah tetap tinggal di dalam namamu.

/4/
Kelak, ketika Tuhan mengembalikan laut kepada langit: aku berharap namaku masih berlabuh di bibirmu.
sebab hanya di sanalah aku tahu doa tidak pernah selesai diucapkan.


2026



Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak.

Author

Admin

Follow Me
Other Articles
Next

Psikologi Horor dalam Teks Sastra

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Situs Ini

Ini bisa jadi ruang yang tepat untuk memperkenalkan diri dan situs Anda, atau menuliskan daftar penghargaan.

Cari

Temukan Kami

Alamat
Jl. Jend. Sudirman 8
Jakarta Pusat, Jakarta 10110

Jam Buka
Senin—Jumat: 09:00–17:00
Sabtu & Minggu: 11:00–15:00

Redaksi

  • Tentang Website
  • Visi dan Misi
  • FAQ

Kebijakan

  • Pedoman Penulisan
  • Etika Publikasi

Mari Berkontribusi

  • Kontak
  • Menjadi Penulis
  • Donasi
Copyright 2026 — kelindan kata. All rights reserved.