Skip to content
kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
Close

Search

kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
Guru Inspiratif

Abdul Wahid, S.Ag., M.S.I. : Menjadi Guru sebagai Panggilan Jiwa

By Admin
September 5, 2026 5 Min Read
1

[Sumber gambar: Dokumentasi Abdul Wahid]

Penulis: Yulia Herliani

Abdul Wahid lahir di Brebes, kota yang dikenal sebagai salah satu sentra telur asin, pada 21 Agustus 1974. Masa pendidikan dasar hingga menengah dijalaninya di kampung halaman. Setelah itu, ia merantau ke Bandung, Jawa Barat, untuk menempuh pendidikan tinggi di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dan menyelesaikannya pada 1998.

Perjalanan akademiknya berlanjut ke jenjang magister di IAIN Walisongo Semarang. Program tersebut diselesaikannya pada 2009. Sejak awal, bidang Pendidikan Agama Islam menjadi ruang keilmuan yang dipilih dan ditekuninya.

Selepas menyelesaikan pendidikan di IAIN Sunan Gunung Djati, Abdul Wahid mulai memasuki dunia pendidikan secara profesional. Pada 2005, ia diterima sebagai Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) di lingkungan Kementerian Agama Kota Bandung dan ditempatkan di SMKS Profita Bandung. Pada 2016, ia kemudian mengalami rotasi tugas ke SMAN 16 Bandung. Hingga kini, sekolah tersebut menjadi salah satu ruang utama bagi pengabdiannya sebagai seorang pendidik.

Abdul Wahid tinggal di Komplek Griya Mitra Posindo, Cinunuk, Cileunyi, Kabupaten Bandung. Di tengah kesibukan sebagai guru, ia tetap menyisihkan waktu untuk dua kegemarannya: literasi dan badminton. Kecintaannya terhadap literasi pernah membawanya pada pengalaman sebagai penulis di sejumlah media. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media cetak lokal, seperti Harian Pikiran Rakyat dan Harian Tribun. Tulisan-tulisan lainnya juga pernah dipublikasikan melalui media daring yang dikelola seorang kawannya.

Ia bahkan memiliki cerita sederhana tentang bagaimana beberapa tulisannya bisa tetap lahir dan terbit. Seorang kawan yang telah menyelesaikan pendidikan doktoral cukup rajin “mengejar-ngejar” dirinya agar terus menulis. Dorongan tersebut, meskipun disampaikan dengan cara yang sederhana, menjadi salah satu pemantik bagi Abdul Wahid untuk tetap menjaga hubungan dengan dunia literasi.

Di luar sekolah, aktivitas Abdul Wahid juga cukup dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari khutbah, pengajian, hingga ceramah dan kegiatan keislaman lainnya. Dunia pendidikan baginya tidak berhenti di ruang kelas. Pengetahuan dan nilai-nilai yang dimiliki seorang guru juga memiliki ruang pengabdian yang luas di tengah masyarakat.

Perjalanan hidupnya telah membawanya pada kehidupan keluarga dengan tiga orang anak: dua perempuan dan satu laki-laki. Anak pertama telah menyelesaikan pendidikan S1, anak kedua sedang menempuh semester lima, sedangkan anak ketiga baru memasuki jenjang SMA. Perjalanan pendidikan anak-anaknya menjadi bagian lain dari pengalaman Abdul Wahid dalam memahami arti belajar dan mendidik.

Menariknya, menjadi guru Pendidikan Agama Islam bukanlah sesuatu yang tiba-tiba hadir dalam perjalanan hidup Abdul Wahid. Jauh sebelum ia menjadi guru secara formal, dunia pendidikan telah menjadi bagian dari kesehariannya. Ketika masih mahasiswa, ia sudah aktif mengajar ngaji. Taman Pendidikan Al-Qur’an Al-Hamid di Cicabe, Cicaheum, menjadi tempat pertama baginya belajar menjadi seorang pendidik.

Di tempat sederhana itulah perjalanan Abdul Wahid sebagai guru bermula. Ia mungkin belum memiliki berbagai atribut yang melekat pada profesi guru seperti sekarang, tetapi pengalaman mengajar ngaji tersebut menjadi semacam fondasi awal yang kemudian berkembang menjadi perjalanan panjang dalam dunia pendidikan.

Puluhan tahun kemudian, peran tersebut semakin melekat dalam kehidupannya. Di lingkungan tempat tinggal, para tetangga bahkan terbiasa memanggilnya dengan sebutan ustaz. Panggilan itu tidak semata-mata muncul dari gelar formal, tetapi dari kesehariannya yang dikenal sebagai guru agama sekaligus bagian dari kepengurusan DKM.

Bagi Abdul Wahid, mengajar dan mendidik bukan sekadar profesi untuk mencari penghidupan. Ada dimensi pengabdian yang jauh lebih dalam. Menjadi guru dipandangnya sebagai panggilan jiwa sekaligus bentuk pemenuhan kewajiban seorang hamba kepada Allah SWT.

Pandangan tersebut berangkat dari keyakinannya bahwa pendidikan merupakan salah satu jalan penting untuk membentuk manusia yang paripurna. Pendidikan tidak cukup dipahami sebagai proses memindahkan pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Pendidikan seharusnya membantu manusia mengenali dirinya, memahami kehidupan, membangun hubungan dengan sesama, dan menyadari kehadiran Tuhan dalam perjalanan hidupnya.

Dalam perspektif Abdul Wahid, proses pendidikan juga tidak pernah berhenti pada batas-batas institusi formal. Sekolah memang menjadi salah satu tempat utama untuk belajar, tetapi kehidupan menyediakan ruang pembelajaran yang jauh lebih luas. Setiap peristiwa, pengalaman, perjumpaan, bahkan persoalan yang dihadapi manusia dapat menjadi bagian dari proses pendidikan.

Alam semesta pun dapat dibaca sebagai ruang belajar. Manusia tinggal membuka kesadaran, mengamati, bertanya, dan mengambil makna dari apa yang dialaminya. Dengan cara pandang seperti itu, pendidikan bukan hanya perkara mendapatkan ijazah atau mencapai jenjang akademik tertentu. Pendidikan merupakan proses sepanjang hayat untuk terus bertumbuh sebagai manusia.

Itulah sebabnya Abdul Wahid memandang belajar sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Selama seseorang masih ingin disebut manusia, selama itu pula ia seharusnya tidak berhenti belajar. Di mana pun berada, kapan pun waktunya, dan dengan siapa pun berinteraksi, selalu tersedia kemungkinan untuk menemukan sesuatu yang baru.

Bagi Abdul Wahid, belajar bukan hanya aktivitas intelektual. Belajar merupakan cara manusia menjaga dirinya agar tetap terbuka terhadap kehidupan. Dengan belajar, manusia tidak hanya mengumpulkan pengetahuan, tetapi juga mengasah kepekaan, memperluas pengalaman, dan memperdalam kesadaran akan dirinya serta Tuhannya.

Dari perjalanan tersebut, sosok Abdul Wahid memperlihatkan bahwa profesi guru dapat tumbuh dari pengalaman yang sederhana, bahkan dari sebuah aktivitas mengajar ngaji ketika masih menjadi mahasiswa. Seiring waktu, aktivitas tersebut berkembang menjadi pengabdian yang lebih luas di sekolah dan masyarakat.

Menjadi guru, bagi Abdul Wahid, bukan sekadar sebuah pekerjaan yang dijalani selama jam kerja. Ia merupakan jalan pengabdian yang telah berkelindan dengan perjalanan hidupnya selama puluhan tahun. Dari ruang kelas hingga lingkungan masyarakat, dari kegiatan mengajar hingga aktivitas keagamaan, semuanya menjadi bagian dari ikhtiarnya untuk terus belajar sekaligus berbagi pengetahuan.

Pada titik inilah perjalanan Abdul Wahid sebagai guru menemukan maknanya, “Mengajar adalah cara mengabdi, mendidik adalah cara memanusiakan, dan belajar adalah cara menjaga manusia agar tetap menjadi manusia.”

E-mail: wahidnews@gmail.com
Blog: www.paabdulwahid.blogspot.com
Saluran WhatsApp: ABWAH Channel

Penulis:
Yulia Herliani lahir di Bandung, 31 Juli. Saat ini dia bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMK Profita Kota Bandung. Tulisan-tulisannya sudah dipublikasi di beberapa media massa daring. Selain menjadi guru, Yulia sangat menikmati perannya sebagai istri dan ibu dari ketiga anaknya. Yulia dan keluarga tinggal di Kota Bandung.
Author

Admin

Follow Me
Other Articles
Previous

Heri Isnaini: Menemukan Jalan Pulang melalui Sastra

Next

Resensi Film: Bahasa dan Sastra di Balik Kisah Rangga & Cinta

One Comment
  1. Asep berkata:
    September 5, 2026 pukul 12:02 pm

    Sangat menginspirasi, Pak

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Situs Ini

Kelindan Kata [Membaca Teks, Menafsir Zaman] adalah media Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan yang dikelola oleh tim akademisi dan penulis. Kami hadir untuk menyediakan ruang berbagi karya, pemikiran, dan penelitian dalam bentuk opini, esai, dan artikel ringan dalam banyak rubrik. ilmiah, Dengan tujuan memperkaya khazanah literasi Indonesia, situs ini terbuka untuk mahasiswa, dosen, peneliti, maupun masyarakat umum yang ingin menyalurkan ide dan karyanya.

Cari

Temukan Kami

Alamat

Jalan Babakan Ciparay No. 320, Kota Bandung, Jawa Barat 40233

Email 

heri.press17@gmail.com / komunitaskembangsepatu@gmail.com

Jam Buka
Senin—Jumat: 09:00–17:00
Sabtu & Minggu: 10:00–15:00

Redaksi

  • Tentang Website
  • Visi dan Misi
  • FAQ

Kebijakan

  • Pedoman Penulisan
  • Etika Publikasi

Mari Berkontribusi

  • Kontak
  • Menjadi Penulis Kelindan Kata
  • Donasi
Copyright 2026 — kelindan kata. All rights reserved.