Skip to content
kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
Close

Search

kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
Tokoh

Ranggawarsita: Pujangga yang Membaca Zaman

By Admin
September 1, 2026 9 Min Read
0

[Sumber gambar: Ilustrasi GPT]

Anak dari Keluarga Pujangga

Pada abad ke-19, ketika kereta kuda masih menjadi alat transportasi penting, ketika penerangan malam belum seperti sekarang, dan ketika berita tentang suatu peristiwa dapat membutuhkan waktu berhari-hari untuk sampai ke tempat lain, lahirlah seorang anak yang kelak namanya dikenal jauh melampaui zaman hidupnya. Anak itu bernama Bagus Burham.

Ia lahir di Surakarta pada 15 Maret 1802. Kelak, setelah dewasa, ia dikenal sebagai Raden Ngabehi Ranggawarsita, salah seorang pujangga terbesar dalam sejarah sastra Jawa. PUI Javanologi Universitas Sebelas Maret mencatat bahwa ia lahir dari keluarga yang dekat dengan tradisi kepujanggaan keraton dan kemudian menjadi abdi dalem Kasunanan Surakarta.

Bagus Burham tidak tumbuh dalam keluarga yang asing terhadap sastra. Keluarganya memiliki hubungan dengan tradisi kepujanggaan Yasadipuran. Karena itu, dunia yang kelak menjadi tempatnya berkarya sebenarnya sudah mengelilinginya sejak kecil. Ia tumbuh dalam lingkungan yang mengenal tembang, naskah, sejarah, bahasa, filsafat, dan berbagai pengetahuan yang berkembang di lingkungan keraton.

Namun, menjadi anak dari keluarga pujangga tidak otomatis membuat seseorang menjadi pujangga. Bagus Burham harus menempuh jalannya sendiri. Dan jalan itu ternyata tidak selalu lurus.


Belajar di Pesantren Tegalsari

Ketika masih muda, Bagus Burham dikirim untuk belajar di Pesantren Gebang Tinatar, Tegalsari, Ponorogo. Di tempat inilah ia belajar agama dan berbagai pengetahuan kepada Kiai Imam Besari.

Pesantren menjadi dunia yang berbeda dari keraton. Jika keraton memperkenalkan Bagus Burham kepada tradisi sastra dan kehidupan bangsawan, pesantren mempertemukannya dengan tradisi keislaman yang lebih kuat. Di sana ia belajar mengaji dan mengenal kehidupan sebagai seorang santri.

Akan tetapi, kisah Bagus Burham di pesantren tidak langsung menjadi kisah tentang seorang murid yang rajin dan sempurna. Dalam riwayat hidupnya, ia justru digambarkan pernah malas belajar dan melakukan berbagai kenakalan. Ia bahkan pernah meninggalkan pesantren bersama pengasuhnya, Ki Tanujaya.

Bagian ini menarik karena membuat sosok Ranggawarsita menjadi lebih manusiawi. Ia tidak lahir sebagai orang bijaksana. Ia menjadi bijaksana melalui perjalanan hidupnya.

Setelah melalui berbagai pengalaman, Bagus Burham kembali belajar dengan lebih sungguh-sungguh. Pendidikan di Tegalsari kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam pembentukan dirinya. Ia tidak hanya belajar pengetahuan, tetapi juga mengenal disiplin, kehidupan spiritual, dan pentingnya mengendalikan diri.

Pengalaman itu kelak dapat kita rasakan dalam karya-karyanya. Ranggawarsita mampu mempertemukan pengetahuan Jawa dengan pemikiran Islam dan dunia kebatinan. Salah satu karya yang paling jelas memperlihatkan pertemuan tersebut adalah Serat Wirid Hidayat Jati.


Mengembara untuk Mencari Pengetahuan

Setelah menyelesaikan masa pendidikannya, perjalanan Bagus Burham tidak berhenti. Ia melakukan pengembaraan dan berguru kepada sejumlah tokoh. Dalam berbagai sumber biografis, perjalanan tersebut dikaitkan dengan beberapa wilayah di Jawa Timur dan Bali.

Pengembaraan seperti itu bukan sekadar perjalanan dari satu kota ke kota lain. Pada masa tersebut, perjalanan merupakan cara seseorang mencari pengetahuan. Seorang calon pujangga tidak hanya membaca buku, tetapi juga bertemu guru, mendengar cerita, mempelajari adat, melihat kehidupan masyarakat, dan menyaksikan berbagai bentuk kepercayaan.

Bagus Burham dengan demikian tidak membangun pengetahuannya dari satu sumber. Ia belajar dari banyak tempat. Keraton memberinya tradisi kepujanggaan. Pesantren memberinya pengetahuan keislaman. Pengembaraan memberinya pengalaman tentang masyarakat dan kebudayaan. Kelak semua pengalaman itu bertemu dalam karya-karyanya.


Memasuki Dunia Keraton

Setelah kembali ke Surakarta, Bagus Burham mulai memasuki dunia birokrasi keraton. Pada 1819, ia menjadi carik, atau juru tulis, di Kadipaten Anom dengan gelar Mas Rangga Panjanganom. Pada 1822, ia memperoleh jabatan sebagai Mantri Carik dengan gelar Mas Ngabehi Sarataka. Kemudian, sekitar tahun 1830, ia memperoleh gelar Raden Ngabehi Ranggawarsita.

Jabatan tersebut penting untuk memahami kehidupan Ranggawarsita. Ia bukan seorang penyair yang hidup jauh dari urusan pemerintahan. Ia bekerja di lingkungan keraton. Ia melihat bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana keputusan dibuat, dan bagaimana kehidupan masyarakat berubah. Karena itu, ketika kemudian ia menulis tentang keadaan masyarakat yang kacau, ia menulis berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri. Ia melihat zamannya dari dekat.


Hidup di Tengah Perubahan Besar

Ranggawarsita hidup pada masa yang penuh perubahan. Ketika ia masih muda, kekuasaan Belanda semakin kuat di Jawa. Kerajaan-kerajaan Jawa mengalami perubahan kedudukan. Hubungan antara keraton dan pemerintah kolonial semakin rumit.

Kemudian terjadi Perang Diponegoro pada 1825–1830, salah satu perang terbesar di Jawa pada abad ke-19. Dalam masa yang penuh gejolak itu, kehidupan keluarga Ranggawarsita sendiri ikut terkena dampaknya. PUI Javanologi UNS mencatat bahwa ayahnya, Raden Mas Pajangswara, meninggal di penjara Belanda pada 1830. Pada masa itu pula Ranggawarsita memperoleh jabatan yang sebelumnya dipegang ayahnya.

Bayangkan seorang anak yang tumbuh di lingkungan keraton, belajar agama di pesantren, kemudian bekerja di istana, sementara di luar istana perang dan perubahan politik sedang berlangsung. Pengalaman seperti itu tentu memengaruhi cara seseorang melihat dunia. Zaman bagi Ranggawarsita bukan sekadar pergantian tahun. Zaman adalah perubahan kehidupan manusia.


Menjadi Pujangga Keraton

Pada akhirnya Ranggawarsita mencapai kedudukan yang membuat namanya dikenal dalam sejarah sastra Jawa. Ia diangkat menjadi pujangga Keraton Kasunanan Surakarta pada 1845. Sejak saat itu, namanya semakin kuat sebagai salah seorang penulis dan pemikir penting dalam tradisi Jawa.

Dalam kebudayaan Jawa, seorang pujangga memiliki kedudukan yang berbeda dari pengarang dalam pengertian modern. Pujangga tidak hanya menulis cerita. Ia dapat menulis tentang sejarah, agama, filsafat, etika, kebatinan, pendidikan, ramalan, bahasa, dan kehidupan manusia.

Karena itu, karya Ranggawarsita sangat beragam. Kamajaya mencatat beberapa karya pentingnya, antara lain Kalatidha, Sabdajati, Sabdatama, Jaka Lodhang, dan Wedhagara. Sumber lain menyebut karya Ranggawarsita mencapai puluhan judul dengan tema yang sangat luas.


Ranggawarsita dan Serat Kalatidha

Dari sekian banyak karyanya, Serat Kalatidha mungkin merupakan karya yang paling dikenal masyarakat sekarang. Di dalam karya inilah muncul istilah zaman edan. Istilah tersebut sering digunakan untuk menggambarkan keadaan ketika kehidupan menjadi kacau, nilai-nilai berubah, dan manusia kesulitan menentukan sikap.

Namun, jangan buru-buru menganggap Ranggawarsita hanya sedang meramalkan masa depan. Ia sebenarnya sedang membaca keadaan masyarakat yang dihadapinya. Ia melihat manusia yang hidup dalam keadaan serba sulit. Ia melihat bahwa orang yang mengikuti arus kadang lebih mudah mendapatkan keuntungan daripada orang yang berusaha mempertahankan prinsip.

Di sinilah Kalatidha menjadi menarik. Ranggawarsita seolah bertanya: Bagaimana manusia harus bersikap ketika keadaan di sekitarnya tidak lagi ideal? Pertanyaan tersebut ternyata tidak hanya berlaku pada abad ke-19.

Siswa yang hidup pada zaman media sosial pun dapat merasakan persoalan yang sama. Ketika sesuatu yang salah dapat menjadi populer, ketika berita palsu dapat menyebar lebih cepat daripada kebenaran, ketika seseorang dinilai berdasarkan jumlah pengikut, pertanyaan Ranggawarsita kembali muncul dalam bentuk baru. Zaman boleh berubah. Manusia tetap harus memilih bagaimana ia akan hidup.


Ranggawarsita dan Ramalan

Nama Ranggawarsita juga sering dikaitkan dengan ramalan. Salah satu karya yang sering dibicarakan adalah Serat Jaka Lodhang. Di dalamnya terdapat ungkapan Wiku Sapta Ngesthi Janma yang kemudian ditafsirkan sebagai angka tahun Jawa 1877, yang bertepatan dengan 1945 Masehi. Karena tahun 1945 adalah tahun kemerdekaan Indonesia, ungkapan tersebut kemudian sering dianggap sebagai ramalan tentang kemerdekaan Indonesia.

Namun, kita perlu berhati-hati. Dalam membaca karya sastra lama, kita harus membedakan antara isi teks dan tafsir pembaca. Sebuah teks dapat memiliki makna yang berkembang dari zaman ke zaman. Apa yang dianggap sebagai ramalan oleh pembaca masa kini belum tentu dimaksudkan secara persis seperti itu oleh pengarangnya.

Karena itu, Ranggawarsita lebih menarik jika dibaca sebagai seorang pengarang yang memikirkan perubahan zaman daripada sekadar sebagai seorang peramal.


Ranggawarsita dan Dunia Spiritual

Selain menulis tentang keadaan sosial, Ranggawarsita juga banyak berbicara tentang kehidupan batin manusia. Salah satu karya pentingnya adalah Serat Wirid Hidayat Jati.

Karya ini membicarakan persoalan ketuhanan, manusia, kehidupan batin, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Para peneliti kemudian mengkajinya dari berbagai sudut, terutama dalam hubungan antara Islam, tasawuf, dan kebudayaan Jawa. Simuh, misalnya, secara khusus membahas Ranggawarsita dan Wirid Hidayat Jati dalam bukunya Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita. Buku tersebut diterbitkan oleh UI Press pada 1988.

Hal ini memperlihatkan bahwa dunia Ranggawarsita tidak hanya berisi persoalan sosial. Ia juga memikirkan pertanyaan yang lebih dalam: Siapa manusia? Dari mana manusia berasal? Untuk apa manusia hidup? Bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan? Pertanyaan seperti itu membuat karya Ranggawarsita tidak hanya penting bagi sejarah sastra, tetapi juga bagi sejarah pemikiran Jawa.


Seorang Pujangga yang Berhubungan dengan Dunia Barat

Ranggawarsita juga hidup dalam masa ketika pengetahuan Jawa mulai banyak dipelajari oleh orang-orang Eropa. Ia berhubungan dengan tokoh seperti C.F. Winter, seorang sarjana yang banyak mempelajari bahasa dan kebudayaan Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa Ranggawarsita tidak hidup dalam dunia yang tertutup.

Ia berada di tengah pertemuan antara pengetahuan Jawa dan pengetahuan kolonial. Situasinya cukup rumit. Di satu sisi, kebudayaan Jawa dipelajari oleh orang Eropa. Di sisi lain, kekuasaan kolonial justru semakin kuat di tanah Jawa. Ranggawarsita hidup di tengah keadaan itu. Ia memahami tradisi sendiri, tetapi juga melihat dunia yang sedang berubah.


Mengapa Ia Disebut Pujangga Terakhir?

Ranggawarsita sering disebut pujangga besar terakhir Jawa. Sebutan ini bukan berarti setelah Ranggawarsita tidak ada lagi orang Jawa yang menulis sastra. Tentu saja banyak sastrawan yang muncul setelahnya. Yang dimaksud adalah bahwa ia dianggap sebagai salah satu tokoh terakhir yang menjalankan tradisi kepujanggaan keraton Jawa dalam bentuknya yang kuat.

Ia adalah seorang penulis sekaligus pemikir. Ia dapat berbicara tentang sastra, tetapi juga tentang agama. Ia dapat menulis tentang ramalan, tetapi juga tentang etika. Ia dapat membicarakan kehidupan manusia, tetapi juga membahas hubungan manusia dengan Tuhan. Karena itu, Ranggawarsita lebih tepat dipahami sebagai seorang intelektual Jawa daripada hanya sebagai penyair.


Kematian yang Menjadi Legenda

Ranggawarsita meninggal pada 24 Desember 1873 dan dimakamkan di Palar, Trucuk, Klaten. Akan tetapi, kematiannya kemudian menjadi bagian dari berbagai cerita yang berkembang di masyarakat. Hubungannya dengan Serat Sabdajati membuat sebagian orang percaya bahwa Ranggawarsita telah mengetahui waktu kematiannya sendiri.

Dari sinilah sosok Ranggawarsita semakin lama semakin dekat dengan dunia legenda. Namun, sebagai pembaca sejarah, kita perlu berhati-hati. Ada perbedaan antara fakta sejarah dan cerita yang berkembang setelah seseorang meninggal. Fakta sejarah memberi tahu bahwa Ranggawarsita meninggal pada 24 Desember 1873.

Sementara kisah mengenai kemampuan meramalkan kematiannya merupakan bagian dari tradisi dan penafsiran yang berkembang di sekitar dirinya. Keduanya boleh dipelajari, tetapi tidak boleh dicampur begitu saja.


Ranggawarsita Bukan Hanya Peramal

Kalau kita hanya mengenal Ranggawarsita dari istilah zaman edan, kita sebenarnya baru mengenal sebagian kecil dari dirinya. Ia adalah anak keluarga pujangga. Ia pernah menjadi santri. Ia pernah mengalami masa muda yang penuh kenakalan. Ia melakukan perjalanan dan berguru.

Ia menjadi abdi dalem. Ia bekerja dalam birokrasi keraton. Ia menyaksikan perubahan politik. Ia hidup pada masa kolonialisme. Ia menjadi pujangga. Ia menulis tentang agama, filsafat, pendidikan, masyarakat, kebatinan, sejarah, sastra, dan masa depan. Karena itu, Ranggawarsita sebaiknya tidak hanya disebut sebagai pujangga yang pandai meramal.

Ia lebih tepat disebut sebagai pujangga yang berusaha memahami manusia dan zamannya. Ramalan hanyalah salah satu bagian dari dunia pemikirannya.


Mengapa Ranggawarsita Masih Penting bagi Kita?

Ranggawarsita hidup lebih dari seratus lima puluh tahun yang lalu. Kita hidup dalam dunia yang sangat berbeda. Kita menggunakan telepon pintar. Kita dapat mengirim pesan dalam hitungan detik. Kita dapat mengetahui peristiwa di negara lain hampir bersamaan dengan orang yang berada di sana.

Namun, manusia masih menghadapi persoalan yang mirip. Kita masih menghadapi kebohongan. Kita masih menghadapi keserakahan. Kita masih menghadapi penyalahgunaan kekuasaan. Kita masih bingung membedakan kebutuhan dan keinginan. Kita masih mencari makna hidup. Dan kita masih bertanya bagaimana menjadi manusia yang baik ketika dunia di sekitar kita tidak selalu baik.

Karena itu, Ranggawarsita masih dapat dibaca. Bukan karena semua ramalannya harus dipercaya. Bukan pula karena ia dianggap mengetahui semua yang akan terjadi. Ia penting karena ia mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi sulit dilakukan: membaca zaman dengan tetap menjaga kesadaran diri.


Warisan Seorang Pujangga

Ranggawarsita meninggal pada 1873, tetapi kematiannya tidak mengakhiri kehidupannya sebagai pengarang. Justru setelah ia meninggal, karya-karyanya terus dibaca, disalin, diterjemahkan, ditafsirkan, dan diperdebatkan. Itulah kehidupan kedua seorang pengarang. Tubuhnya berhenti hidup, tetapi kata-katanya terus berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Mungkin inilah alasan mengapa Ranggawarsita masih sering disebut ketika orang membicarakan zaman yang kacau. Ia pernah melihat dunia yang berubah dengan cepat dan mencoba memahami perubahan tersebut melalui sastra. Ia tidak hidup di zaman internet. Ia tidak mengenal media sosial. Ia tidak mengenal kecerdasan buatan.

Namun, ia memahami sesuatu yang jauh lebih tua daripada teknologi: manusia selalu dapat kehilangan arah ketika perubahan bergerak lebih cepat daripada kebijaksanaannya. Karena itu, ketika kita membaca Ranggawarsita hari ini, kita sebenarnya tidak sedang berjalan mundur menuju abad ke-19. Kita sedang melihat diri kita sendiri melalui cermin yang dibuat oleh seorang pujangga yang hidup jauh sebelum kita lahir.

Dan mungkin di situlah kekuatan sastra. Sastra tidak membuat masa lalu kembali. Sastra membuat masa lalu berbicara kepada masa kini. Ranggawarsita telah lama meninggalkan dunia, tetapi selama manusia masih bertanya tentang zaman, tentang kebaikan, tentang Tuhan, tentang kehidupan, dan tentang bagaimana seharusnya manusia bersikap ketika keadaan menjadi kacau, suara Ranggawarsita akan selalu menemukan jalan untuk kembali.


Daftar Pustaka

Kamajaya. (1980). Pujangga Ranggawarsita. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Mulyanto, R. I., Sartini, Siswomartana, A. S., Radjiman, & Riyanto. (1990). Biografi Pujangga Ranggawarsita. Jakarta: Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Simuh. (1988). Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita: Suatu Studi terhadap Serat Wirid Hidayat Jati. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Endraswara, Suwardi. (2003). Falsafah Hidup Jawa. Yogyakarta: Cakrawala.

Ciptoprawiro, Abdullah. (1986). Filsafat Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

PUI Javanologi Universitas Sebelas Maret. (2021). “Javanologi Explore: Figur Jawa—Ronggowarsito.” Universitas Sebelas Maret.

Nurani, Diana Rahmawati Intan. (2015). Mistik Islam dalam Serat Wirid Hidayat Jati Menurut Pandangan Simuh. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Author

Admin

Follow Me
Other Articles
Previous

4 Cara Kata Asing Masuk ke Bahasa Indonesia

Next

Yuk, Kenalan dengan Vokal, Konsonan, dan Diftong!

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Situs Ini

Kelindan Kata [Membaca Teks, Menafsir Zaman] adalah media Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan yang dikelola oleh tim akademisi dan penulis. Kami hadir untuk menyediakan ruang berbagi karya, pemikiran, dan penelitian dalam bentuk opini, esai, dan artikel ringan dalam banyak rubrik. ilmiah, Dengan tujuan memperkaya khazanah literasi Indonesia, situs ini terbuka untuk mahasiswa, dosen, peneliti, maupun masyarakat umum yang ingin menyalurkan ide dan karyanya.

Cari

Temukan Kami

Alamat

Jalan Babakan Ciparay No. 320, Kota Bandung, Jawa Barat 40233

Email 

heri.press17@gmail.com / komunitaskembangsepatu@gmail.com

Jam Buka
Senin—Jumat: 09:00–17:00
Sabtu & Minggu: 10:00–15:00

Redaksi

  • Tentang Website
  • Visi dan Misi
  • FAQ

Kebijakan

  • Pedoman Penulisan
  • Etika Publikasi

Mari Berkontribusi

  • Kontak
  • Menjadi Penulis Kelindan Kata
  • Donasi
Copyright 2026 — kelindan kata. All rights reserved.