Skip to content
kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
Close

Search

kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

kelindan kata kelindan kata

Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan

  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
  • Beranda
  • Ruang Redaksi
    • Tentang Kami
    • Dewan Redaksi
    • Kebijakan Privasi
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
    • Kritik Sastra
  • Pendidikan
    • Guru Inspiratif
    • Pembelajaran Inovatif
  • Sudut Pandang
    • Resensi Buku
    • Esai dan Opini
    • Tradisi dan Budaya
  • Tokoh
  • Kabar Sastra
  • Bahasa
  • Kelindan
  • Kosa Kata
  • Unduhan
  • Kirim Tulisan
Guru Inspiratif

Membaca Jejak Kecendekiaan Dr. Teti Sobari, M.Pd.

By Admin
Agustus 19, 2026 6 Min Read
0

[Sumber gambar: Dokumentasi Dr. Teti Sobari, M.Pd.]

Penulis: Heri Isnaini

Ada orang yang menjalani dunia akademik seperti seseorang menaiki tangga: satu anak tangga, lalu anak tangga berikutnya, sampai akhirnya tiba di tempat yang lebih tinggi. Tetapi ada pula orang yang perjalanan akademiknya lebih mirip menyusuri sungai. Ia tidak selalu berjalan lurus. Kadang berbelok, melewati tepian yang berbeda, memasuki ruang-ruang yang tidak pernah direncanakan sebelumnya, tetapi selalu membawa satu hal yang sama, yaitu pengetahuan yang terus mengalir. Saya kira, Dr. Teti Sobari, termasuk yang kedua.

Membaca riwayat akademiknya, kita seperti sedang membaca sebuah perjalanan panjang tentang seseorang yang tidak pernah benar-benar meninggalkan bahasa. Dari pendidikan sarjana, magister, hingga doktoral, seluruh jenjang keilmuannya berada dalam satu rumpun, yakni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia menyelesaikan S1 pada 1991, S2 pada 2006, dan S3 pada 2012 di Universitas Pendidikan Indonesia. Ada jarak waktu yang cukup panjang di antara jenjang-jenjang itu. Tetapi justru di situlah barangkali kita dapat membaca satu hal yang sering luput dari daftar riwayat hidup bahwa menjadi akademisi bukan hanya perkara memperoleh gelar, melainkan perkara menjaga kesetiaan kepada ilmu.

Bahasa, bagi seorang akademisi pendidikan bahasa, tentu bukan sekadar kumpulan kata, struktur, atau kaidah. Bahasa adalah ruang tempat manusia menyusun pikiran, menyampaikan pengalaman, membentuk identitas, bahkan mempertarungkan kepentingan. Sebab itu, perjalanan Dr. Teti Sobari dalam dunia akademik terasa menarik ketika kita melihat bagaimana bidang yang ditekuninya kemudian menjelma ke dalam berbagai penelitian dan aktivitas pendidikan. Tetapi sebelum sampai ke ruang penelitian, ada perjalanan lain yang tidak kalah penting, yaitu perjalanan kelembagaan.

Sejak 1992, Dr. Teti Sobari telah menjalani berbagai posisi di lingkungan perguruan tinggi. Ia pernah menjadi sekretaris program studi, kepala bagian administrasi umum, kepala bagian kemahasiswaan, kepala perpustakaan, hingga kepala SPMI. Setelah itu ia dipercaya menjadi Ketua Program Studi S2 Pendidikan Bahasa Indonesia pada 2018–2020. Sejak 2021, ia menjalankan amanah sebagai Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa IKIP Siliwangi.

Saya selalu tertarik pada orang-orang yang perjalanan akademiknya tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Sebab perguruan tinggi sesungguhnya bukan hanya tempat orang mengajar. Ia adalah organisasi besar yang memiliki mahasiswa, dosen, administrasi, perpustakaan, sistem penjaminan mutu, penelitian, pengabdian, dan sekian banyak persoalan manusia yang harus diurus setiap hari.

Sebab itu, menjadi dekan setelah pernah melewati berbagai ruang tersebut barangkali membuat seseorang melihat perguruan tinggi dengan cara yang berbeda. Ia tidak hanya melihat fakultas dari ruang pimpinan, tetapi pernah merasakan bagaimana rasanya berada di balik meja administrasi, berhadapan dengan mahasiswa, mengelola perpustakaan, mengurusi penjaminan mutu, dan memimpin program studi. Ada banyak pengalaman yang tidak tertulis dalam gelar akademik. Dan mungkin pengalaman itulah yang diam-diam membentuk cara seseorang memimpin.

Yang menarik dari Dr. Teti Sobari (dan perlu diteladani) adalah bahwa perjalanan kelembagaan itu tidak membuat dunia penelitiannya berhenti. Justru sebaliknya. Lima tahun terakhir menunjukkan sebuah gerak akademik yang cukup dinamis.

Ada penelitian tentang analisis wacana kritis, keterampilan menulis, kemampuan berpikir kritis, pembelajaran berbasis proyek, HOTS, multimedia, video, literasi, hingga teknologi kecerdasan buatan. Beberapa penelitian bahkan diterbitkan pada jurnal bereputasi internasional, dengan capaian Q1, Q2, dan Q3. Di sini saya menemukan sesuatu yang menarik. Seorang akademisi bahasa tidak harus terjebak dalam romantisme bahwa bahasa hanya milik buku, papan tulis, dan ruang kelas. Bahasa ternyata bergerak bersama zaman.

Dulu kita berbicara tentang menulis dengan pena. Kemudian komputer mengubah cara orang menulis. Internet mengubah cara orang membaca. Media sosial mengubah cara orang memproduksi wacana. Video mengubah cara teks berinteraksi dengan gambar dan suara. Dan sekarang artificial intelligence perlahan mengubah cara manusia merancang, menulis, mengoreksi, bahkan memikirkan teks. Dr. Teti Sobari tampaknya tidak memilih untuk berdiri di luar perubahan itu. Ia masuk ke dalamnya.

Salah satu penelitian terbarunya, misalnya, membicarakan dampak strategi guided writing berbasis Gen-AI dan multimedia terhadap kreativitas berpikir dan kreativitas komposisi dalam penulisan cerita pendek. Penelitian lain membahas integrasi GenAI-Automatic Corrective Feedback dalam pembelajaran menulis kolaboratif berbasis instruksi metakognitif. Bagi saya, ini bukan sekadar pergantian topik penelitian. Ini adalah tanda bahwa seorang akademisi sedang berusaha menjawab pertanyaan yang lebih besar, yakni “Ketika teknologi berubah, bagaimana manusia tetap menjadi pusat pendidikan?” Pertanyaan itu penting, terutama bagi dunia pendidikan bahasa.

Sebab jika mesin semakin mampu menghasilkan teks, mengoreksi teks, bahkan menyusun teks yang tampak baik, maka tugas pendidikan bahasa tidak lagi cukup mengajarkan seseorang bagaimana membuat kalimat yang benar. Pendidikan harus mengajarkan manusia bagaimana berpikir sebelum menulis, memilih sebelum menggunakan, meragukan sebelum mempercayai, dan bertanggung jawab atas apa yang ia katakan. Di titik inilah penelitian tentang bahasa bertemu dengan persoalan kemanusiaan.

Menariknya, perhatian terhadap perubahan pendidikan juga tampak dalam kegiatan pengabdian Bu Teti. Dalam lima tahun terakhir, ada kegiatan penguatan literasi bahasa berbasis digital, penyusunan perangkat pembelajaran yang terintegrasi ICT, peningkatan kompetensi guru, hingga pengintegrasian deep learning dan transformative learning dalam pembelajaran abad ke-21.

Ada sesuatu yang saya sukai dari pola ini. Pengetahuan tidak dibiarkan tinggal di jurnal. Ia dibawa kembali kepada guru. Sebab pada akhirnya, penelitian pendidikan yang baik bukan hanya yang berhasil memperoleh publikasi, sitasi, atau indeksasi. Ia akan menemukan maknanya ketika pengetahuan tersebut sampai kepada seseorang yang berdiri di depan kelas pada Senin pagi, membuka buku pelajaran, melihat wajah murid-muridnya, kemudian bertanya dalam hati: “Bagaimana saya membuat mereka belajar?” Di sanalah penelitian bertemu dengan kehidupan. Dan barangkali di sanalah seorang dosen menemukan alasan mengapa ia harus terus belajar.

Dr. Teti Sobari juga memiliki sejumlah karya yang memperoleh HKI: LKPD, Jelajah Menulis, Kartu Sebab Akibat, modul tentang pengembangan model PJBL berbantuan TikTok untuk meningkatkan kemampuan menulis teks berita dan motivasi siswa, serta modul ajar Aku Hebat Bisa Menulis Teks. Saya membaca daftar itu bukan sebagai deretan produk administratif. Saya membacanya sebagai tanda lain dari perjalanan pengetahuan, yaitu “dari gagasan menuju sesuatu yang dapat digunakan.”

Di sinilah seorang akademisi diuji dengan cara yang berbeda.Gagasan memang penting. Teori penting. Artikel jurnal penting. Tetapi pendidikan selalu meminta sesuatu yang lebih: bagaimana gagasan itu menjelma menjadi pengalaman belajar?Sebab sebuah teori yang hanya tinggal di halaman jurnal mungkin berguna bagi komunitas ilmiah, tetapi sebuah gagasan yang berhasil masuk ke tangan guru dan siswa dapat mengubah cara seseorang belajar.

Dan mungkin itulah mengapa perjalanan Dr. Teti Sobari menarik untuk dibaca.Ia bergerak dari bahasa menuju pembelajaran, dari penelitian menuju praktik, dari ruang akademik menuju ruang kelembagaan, dan kini berhadapan dengan tantangan baru bernama teknologi kecerdasan buatan.

Saya membayangkan dunia akademik seperti sebuah perpustakaan besar.Ada orang yang datang untuk membaca satu buku, menemukan jawabannya, lalu pulang.Ada orang yang tinggal lebih lama sebab satu buku membawanya kepada buku lain, satu pertanyaan melahirkan pertanyaan berikutnya, dan satu jawaban ternyata hanya pintu menuju kegelisahan baru.

Akademisi yang kedua biasanya tidak pernah benar-benar selesai belajar.Barangkali Dr. Teti Sobari adalah salah satunya. Dari pendidikan bahasa dan sastra, ia memasuki administrasi akademik, kemahasiswaan, perpustakaan, penjaminan mutu, pengelolaan program studi, kemudian kepemimpinan fakultas. Pada saat yang sama, ia terus meneliti bahasa, wacana, menulis, literasi, teknologi pembelajaran, hingga Gen-AI.

Maka, jika ada yang bertanya “Siapa Dr. Teti Sobari?” mungkin jawaban paling sederhana bukanlah “seorang dekan”, bukan pula “seorang lektor kepala”. Ia adalah seorang pembelajar yang kebetulan telah dipercaya memimpin banyak orang untuk belajar.

Dan saya kira, ada perbedaan besar antara keduanya. Jabatan akan berganti. Ruang pimpinan suatu hari akan ditempati orang lain. Surat keputusan akan memiliki tanggal mulai dan tanggal berakhir. Tetapi kebiasaan belajar seharusnya tidak mengenal masa jabatan. Sebab pendidikan selalu berubah. Bahasa selalu bergerak. Teknologi selalu datang dengan wajah baru. Dan manusia, (dengan segala keterbatasan dan kemungkinan yang dimilikinya) selalu membutuhkan seseorang yang mau berdiri sedikit lebih dahulu untuk membaca perubahan itu.

Itulah yang sedang dilakukan Dr. Teti Sobari. Ia membaca zaman melalui bahasa. Lalu membawa hasil bacaannya kembali ke dunia pendidikan. Dan selama seorang akademisi masih mau membaca zaman, barangkali ia belum pernah benar-benar selesai menjadi guru.

Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak.

Author

Admin

Follow Me
Other Articles
Previous

Ketika Cinta Menjadi Penjara Waktu

Next

Dari Denpasar untuk Pameungpeuk: Membawa Pulang Gagasan tentang Sekolah Berbudaya Riset

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Situs Ini

Kelindan Kata [Membaca Teks, Menafsir Zaman] adalah media Bahasa, Sastra, Pendidikan, dan Gagasan yang dikelola oleh tim akademisi dan penulis. Kami hadir untuk menyediakan ruang berbagi karya, pemikiran, dan penelitian dalam bentuk opini, esai, dan artikel ringan dalam banyak rubrik. ilmiah, Dengan tujuan memperkaya khazanah literasi Indonesia, situs ini terbuka untuk mahasiswa, dosen, peneliti, maupun masyarakat umum yang ingin menyalurkan ide dan karyanya.

Cari

Temukan Kami

Alamat

Jalan Babakan Ciparay No. 320, Kota Bandung, Jawa Barat 40233

Email 

heri.press17@gmail.com / komunitaskembangsepatu@gmail.com

Jam Buka
Senin—Jumat: 09:00–17:00
Sabtu & Minggu: 10:00–15:00

Redaksi

  • Tentang Website
  • Visi dan Misi
  • FAQ

Kebijakan

  • Pedoman Penulisan
  • Etika Publikasi

Mari Berkontribusi

  • Kontak
  • Menjadi Penulis Kelindan Kata
  • Donasi
Copyright 2026 — kelindan kata. All rights reserved.