Belajar dari Diena San Fauziya: Dosen, Peneliti, dan Pendidik yang Tak Pernah Berhenti Menginspirasi

[Dokumentasi: foto Dr. Diena San Fauziya, M.Pd.]
Penulis: Heri Isnaini
Ada orang yang mengajar karena itu pekerjaannya. Ada pula orang yang mengajar karena meyakini bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah kehidupan. Di antara keduanya, kita menemukan sosok yang bukan sekadar hadir di ruang kelas, tetapi juga terus belajar, meneliti, menulis, dan berbagi. Sosok itu adalah Dr. Diena San Fauziya, M.Pd.
Namanya tidak asing bagi mereka yang bergelut dalam dunia Pendidikan Bahasa Indonesia, khususnya di lingkungan IKIP Siliwangi. Perjalanan akademiknya menunjukkan satu hal penting: menjadi pendidik bukan berarti berhenti belajar setelah mendapatkan gelar. Justru sebaliknya, semakin tinggi ilmu yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk membagikannya.
Diena San Fauziya lahir di Sumedang pada 1988. Pendidikan S1 ditempuhnya pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, dan diselesaikan pada 2010. Tiga tahun kemudian, ia menyelesaikan pendidikan S2 Pendidikan Bahasa Indonesia di universitas yang sama. Kini, ia telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya dan menggunakan gelar Dr. di depan namanya.

Perjalanan tersebut tentu bukan perjalanan singkat. Ada waktu, tenaga, pikiran, dan kesabaran yang harus dipertaruhkan. Namun, mungkin justru di sanalah salah satu pelajaran penting dari sosok Diena: “Pendidikan tidak pernah mengenal kata selesai.”
Sejak 2011, Diena tercatat sebagai dosen tetap di IKIP Siliwangi. Dalam perjalanan karier akademiknya, ia dipercaya menjadi Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan kini tercatat memiliki jabatan akademik Lektor. Ia juga telah memperoleh sertifikasi dosen.
Tetapi menjadi dosen bagi Diena tampaknya bukan sekadar berdiri di depan mahasiswa, menyampaikan materi, lalu memberikan tugas. Dunia pendidikan baginya memiliki ruang yang jauh lebih luas. Ada penelitian, pengabdian kepada masyarakat, literasi, pengembangan pembelajaran, pelatihan guru, dan berbagai kegiatan akademik yang menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Di sinilah sosok Diena menjadi menarik untuk diperhatikan. Ia tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang harus saya ajarkan?” tetapi juga bergerak menuju pertanyaan, “Bagaimana agar pembelajaran menjadi lebih bermakna?” Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pintu masuk menuju berbagai inovasi pembelajaran.

Dalam rekam jejak penelitiannya, Diena banyak bersentuhan dengan persoalan pembelajaran bahasa, keterampilan menulis, literasi, komunikasi pedagogis, hingga inovasi pembelajaran. Ia pernah meneliti penerapan jurnal reflektif berbasis High Order Thinking Skills (HOTS) dalam pembelajaran menulis makalah, strategi komunikasi interaktif edukatif dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, serta pembelajaran menulis dengan berbagai pendekatan.
Artinya, bahasa baginya bukan sekadar kumpulan kata dan aturan tata bahasa. Bahasa adalah alat berpikir. Bahasa adalah cara seseorang menyampaikan gagasan. Bahkan, melalui kemampuan berbahasa, seseorang dapat belajar memahami dirinya sendiri dan lingkungannya.
Karena itu, literasi menjadi salah satu wilayah yang penting dalam kiprah akademiknya. Di tengah kebiasaan membaca yang masih menjadi tantangan, upaya menghidupkan literasi tidak cukup dilakukan dengan meminta siswa membaca buku. Literasi harus hadir dalam proses pembelajaran yang nyata. Siswa perlu diberi ruang untuk membaca, menulis, berdiskusi, bertanya, menyampaikan pendapat, dan menghasilkan karya. Gagasan semacam inilah yang membuat sosok pendidik seperti Diena relevan dengan kebutuhan pendidikan hari ini.
Menariknya lagi, kiprah Diena tidak berhenti pada mahasiswa. Ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan yang bersentuhan langsung dengan guru. Salah satunya adalah pelatihan penyusunan perangkat pembelajaran Project Based Learning berbasis Computational Thinking bagi guru Bahasa Indonesia SMA/SMK/sederajat di Kabupaten Bandung Barat.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa seorang dosen dapat menjadi jembatan antara dunia perguruan tinggi dan sekolah. Ilmu yang diperoleh dari penelitian tidak seharusnya berhenti di jurnal atau ruang seminar. Ilmu akan jauh lebih bermakna ketika sampai kepada guru dan akhirnya dirasakan manfaatnya oleh siswa. Di sinilah makna menjadi pendidik terasa lebih luas.
Seorang dosen mungkin mengajar mahasiswa di perguruan tinggi. Namun, ketika ia berbagi ilmu kepada guru, dampaknya bisa meluas kepada banyak ruang kelas dan lebih banyak peserta didik. Satu gagasan dapat berpindah dari seorang dosen kepada seorang guru, kemudian diteruskan kepada puluhan bahkan ratusan siswa.

Diena juga menunjukkan bahwa penelitian bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan pembelajaran. Pada 2024 dan 2025, misalnya, rekam jejak SINTA mencatat penelitian yang dipimpinnya berkaitan dengan pengembangan instrumen evaluasi model project berbasis Liveworksheets dan Design Thinking dalam pembelajaran menulis, serta pengembangan model Project Based Learning berbasis Computational Thinking berbantuan platform digital dalam mata kuliah inovasi pembelajaran bahasa.
Perhatian terhadap teknologi tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran bahasa juga harus mampu mengikuti perubahan zaman. Guru dan dosen tidak bisa terus-menerus menggunakan cara yang sama ketika karakter peserta didik, teknologi, dan kebutuhan masyarakat terus berubah. Namun, teknologi tetaplah alat. Yang paling penting adalah bagaimana alat tersebut digunakan untuk membantu manusia belajar.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa sosok Diena layak disebut inspiratif. Ia tidak hanya berbicara tentang perubahan dalam pendidikan, tetapi ikut bergerak mencari cara agar perubahan tersebut dapat terjadi.
Ia juga memiliki perhatian terhadap komunikasi dalam proses pendidikan. Penelitiannya mengenai komunikasi pedagogis dalam pelatihan penulisan artikel ilmiah menunjukkan bahwa cara menyampaikan ilmu ternyata sama pentingnya dengan ilmu yang disampaikan. Bahasa yang tepat dapat membantu mengurangi hambatan psikologis seseorang ketika belajar menulis.
Bukankah ini juga yang sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari? Kadang-kadang seseorang bukan tidak mampu. Ia hanya belum menemukan guru yang mampu membuatnya percaya bahwa ia sebenarnya mampu. Seorang pendidik yang baik bukan hanya memberikan jawaban, tetapi membantu peserta didik berani menemukan jawabannya sendiri.
Dari perjalanan Diena, kita dapat belajar bahwa menjadi pendidik berarti bersedia terus bertumbuh. Gelar doktor bukan garis akhir. Jabatan akademik bukan tujuan terakhir. Penelitian bukan sekadar angka dalam laporan. Dan mengajar bukan sekadar menyelesaikan kewajiban. Semuanya dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk memberikan manfaat.
Dunia pendidikan membutuhkan lebih banyak sosok seperti itu. Sosok yang mau belajar ketika orang lain merasa sudah cukup tahu. Sosok yang mau meneliti ketika orang lain hanya mengeluhkan masalah. Sosok yang mau berbagi ketika ilmu sebenarnya bisa saja disimpan sendiri.

Diena San Fauziya memberi contoh bahwa menjadi dosen sekaligus peneliti berarti memiliki kesempatan untuk terus bertanya, mencoba, gagal, memperbaiki, dan menemukan sesuatu yang lebih baik. Pada akhirnya, inspirasi terbesar dari seorang pendidik bukan selalu terletak pada seberapa banyak gelar yang terpampang di depan atau belakang namanya. Inspirasi justru terlihat dari seberapa banyak orang yang ikut tumbuh karena kehadirannya. Dan mungkin, di situlah kita dapat belajar dari Diena San Fauziya. Bahwa pendidikan bukan tentang siapa yang paling pintar. Pendidikan adalah tentang siapa yang bersedia terus belajar dan kemudian membantu orang lain untuk ikut belajar.
Sebab seorang pendidik sejati tidak pernah benar-benar selesai belajar. Ia terus membaca zaman, meneliti persoalan, memperbarui cara mengajar, dan membuka jalan bagi generasi berikutnya. Karena ketika ilmu dibagikan, ia tidak pernah berkurang. Justru tumbuh menjadi inspirasi.
Ketika Dipercaya Menjadi Kaprodi: Memimpin dengan Gagasan
Menjadi dosen adalah satu hal. Menjadi peneliti adalah hal lain. Namun, ketika seorang dosen dipercaya memimpin sebuah program studi, tanggung jawabnya menjadi jauh lebih besar. Ia tidak hanya memikirkan perkembangan dirinya sendiri, tetapi juga harus memikirkan arah perkembangan mahasiswa, dosen, kurikulum, budaya akademik, hingga masa depan program studi. Peran inilah yang pernah dijalankan Diena San Fauziya ketika dipercaya menjadi Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) IKIP Siliwangi.

Bagi sebuah program studi, Kaprodi bukan sekadar jabatan administratif. Kaprodi adalah salah satu orang yang berada di garis depan dalam menerjemahkan visi perguruan tinggi ke dalam kehidupan akademik sehari-hari. Ada mahasiswa yang harus dibimbing, dosen yang perlu diajak berkolaborasi, kegiatan akademik yang harus dikembangkan, serta berbagai persoalan pendidikan yang membutuhkan keputusan dan solusi.
Dalam menjalankan peran tersebut, Diena tampak membawa perhatian yang kuat terhadap literasi, inovasi pembelajaran, penelitian, dan keterhubungan antara dunia akademik dengan praktik pendidikan. Hal ini sejalan dengan arah pengembangan PBSI IKIP Siliwangi yang menempatkan bahasa, sastra, literasi, penelitian, dan pemanfaatan teknologi sebagai bagian penting dalam membentuk lulusan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Salah satu capaian yang penting dicatat adalah ketika Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Siliwangi berhasil meraih akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) pada 2024. Dalam berita resmi IKIP Siliwangi, Diena disebut sebagai Ketua Program Studi pada saat capaian tersebut diraih. Ia menyampaikan bahwa keberhasilan itu merupakan hasil sinergi antara mahasiswa, dosen, dan seluruh elemen program studi.
Di titik ini, kepemimpinan Diena menarik untuk dilihat bukan hanya dari hasil akhirnya, tetapi juga dari cara memandang keberhasilan tersebut. Akreditasi Unggul bukan semata-mata sebuah predikat yang kemudian dipajang di laman program studi. Di baliknya terdapat proses panjang: pembenahan tata kelola, peningkatan kualitas pembelajaran, penguatan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, serta kerja bersama seluruh sivitas akademika.

Kepemimpinan seperti itu mengajarkan bahwa keberhasilan pendidikan hampir tidak pernah lahir dari kerja seorang diri. Ada kolaborasi yang harus dibangun. Ada komunikasi yang harus dijaga. Ada kepercayaan yang harus ditumbuhkan. Dan ada kesediaan untuk mendengarkan berbagai pihak.
Hal tersebut terlihat pula dalam aktivitas PBSI IKIP Siliwangi yang melibatkan Diena dalam berbagai kegiatan bersama guru dan sekolah. Dalam salah satu kegiatan bersama MGMP Bahasa Indonesia SMA Kabupaten Bandung Barat, Diena menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan praktisi pendidikan untuk membangun ekosistem pembelajaran yang adaptif dan berkelanjutan.
Gagasan itu terasa penting karena perguruan tinggi dan sekolah kadang berjalan dalam jalur yang berbeda. Kampus sibuk dengan penelitian dan teori, sementara guru di sekolah berhadapan langsung dengan persoalan nyata di kelas. Padahal, keduanya seharusnya saling menguatkan.
Dosen membutuhkan pengalaman guru untuk memahami persoalan pembelajaran secara lebih nyata. Sebaliknya, guru membutuhkan hasil penelitian dan gagasan akademik agar praktik pembelajarannya terus berkembang. Ketika keduanya bertemu, pendidikan tidak lagi hanya berbicara tentang teori, tetapi tentang bagaimana teori tersebut benar-benar bekerja di lapangan.
Dalam kapasitasnya sebagai Kaprodi, Diena juga terlibat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang menyentuh kebutuhan guru secara langsung. Salah satunya adalah kegiatan In House Training di SMKN 1 Cipeundeuy pada Juli 2025 yang memberikan penguatan kepada guru terkait implementasi pembelajaran berbasis deep learning. Diena menjadi salah satu pemateri utama dalam kegiatan tersebut.
Hal ini memperlihatkan satu sisi lain dari kepemimpinannya. Menjadi pemimpin program studi ternyata tidak membuat ruang geraknya hanya berada di dalam kampus. Justru, kepemimpinan akademik dapat diperluas dengan menghadirkan ilmu kepada masyarakat pendidikan.
Guru tidak hanya membutuhkan teori baru, tetapi juga membutuhkan teman berdiskusi. Mereka membutuhkan ruang untuk bertanya, mencoba, mengevaluasi, dan menemukan cara baru dalam menghadapi perubahan zaman. Kehadiran dosen yang mau turun langsung ke sekolah menjadi jembatan penting antara pengetahuan akademik dan kebutuhan praktis di lapangan.
Diena juga menunjukkan perhatian terhadap literasi akademik. Pada Mei 2025, PBSI IKIP Siliwangi melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMA Al-Mukhtariyah Rajamandala dengan fokus pada keterampilan literasi akademik dan kesiapan studi lanjut. Dalam kegiatan tersebut, Diena hadir sebagai Ketua Program Studi dan memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan.
Bagi saya, bagian ini menarik. Sebab, jika berbicara tentang pendidikan bahasa, literasi bukanlah sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan memahami informasi, mengolah gagasan, menyampaikan pendapat, dan menggunakan pengetahuan untuk mengambil keputusan. Karena itu, membangun budaya literasi berarti sedang membangun cara berpikir generasi muda.
Dari sini kita dapat melihat bahwa peran Diena sebagai Kaprodi memiliki dimensi yang cukup luas. Ia tidak hanya mengurus administrasi program studi, tetapi juga ikut menggerakkan budaya akademik, memperkuat hubungan antara kampus dan sekolah, mendorong literasi, serta membuka ruang kolaborasi dengan para praktisi pendidikan.

Menjadi Kaprodi juga berarti belajar menjadi pemimpin yang mampu berjalan bersama orang lain. Sebab sebuah program studi tidak akan tumbuh hanya karena seorang pemimpin memiliki banyak gagasan. Gagasan harus diterjemahkan menjadi gerakan, dan gerakan membutuhkan orang-orang yang mau berjalan bersama.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa sosok Diena menarik untuk disebut sebagai pendidik inspiratif. Ia memperlihatkan bahwa kepemimpinan dalam pendidikan tidak harus selalu tampil dalam bentuk pidato besar atau kebijakan yang terdengar hebat. Kadang-kadang kepemimpinan hadir dalam bentuk yang sederhana: mengajak dosen berkolaborasi, mendampingi mahasiswa, berbicara dengan guru, membuka ruang diskusi, mendorong penelitian, dan memastikan bahwa program studi terus bergerak mengikuti kebutuhan zaman.
Pada akhirnya, menjadi Kaprodi bukan hanya tentang memimpin sebuah program studi. Lebih dari itu, ia adalah kesempatan untuk menciptakan lingkungan tempat mahasiswa belajar, dosen berkembang, guru mendapatkan penguatan, dan gagasan-gagasan baru lahir.
Dari perjalanan Diena San Fauziya, kita dapat belajar bahwa pemimpin pendidikan bukanlah orang yang berdiri paling depan untuk menunjukkan bahwa dirinya paling tahu. Pemimpin pendidikan adalah orang yang mampu mengajak banyak orang berjalan ke arah yang sama.
Dan ketika perjalanan itu menghasilkan program studi yang semakin kuat, mahasiswa yang semakin literat, guru yang semakin siap menghadapi perubahan, serta budaya akademik yang semakin hidup, di situlah kepemimpinan benar-benar menemukan maknanya.
“Sebab pendidikan yang baik tidak lahir dari satu orang yang hebat, tetapi dari banyak orang yang mau bergerak bersama.“
Penulis
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak.