Editor yang Menemukan Dirinya sebagai Tokoh Cerita

[Sumber gambar: AI]
Penulis: Heri Isnaini
Sudah hampir dua puluh tahun Raka hidup di antara naskah-naskah yang datang dari berbagai penjuru negeri, sehingga ia lebih mudah mengenali watak seorang pengarang melalui pilihan katanya daripada mengenali wajah tetangga yang setiap pagi berpapasan dengannya. Meja kerjanya selalu dipenuhi manuskrip dengan bau kertas yang berbeda-beda, secangkir kopi yang sering dibiarkan dingin, dan pena merah yang lebih banyak menghapus daripada menulis. Ia pernah berkata kepada seorang penulis muda bahwa tugas editor bukanlah memperbaiki bahasa, melainkan menyelamatkan kehidupan yang bersembunyi di balik bahasa. Kalimat itu terdengar indah, tetapi diam-diam ia sadar bahwa kehidupan yang paling lama tidak disentuhnya justru adalah kehidupannya sendiri.
Setiap Senin pagi sebuah paket cokelat selalu ditemukan di atas mejanya. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada alamat. Hanya sebuah manuskrip tanpa judul yang halaman pertamanya selalu kosong.
Pada mulanya Raka menganggapnya sebagai ulah seorang pengarang yang gemar bermain teka-teki. Ia menyunting naskah itu sebagaimana naskah lain, memberi catatan pada pinggir halaman, memperbaiki ejaan, memangkas kalimat yang berlebihan, lalu menyerahkannya kepada bagian administrasi. Anehnya, setiap pekan manuskrip baru kembali datang dengan sampul yang sama, halaman pertama yang tetap kosong, tetapi isi yang selalu berbeda.
Pada Senin kesebelas, sesuatu berubah. Di halaman kedua tertulis kalimat yang membuat matanya berhenti bergerak. “Pagi itu Raka datang terlambat sebab ia memilih berhenti cukup lama di jembatan untuk melihat sungai yang mulai mengering.” Ia mengernyit.
Pagi itu memang ia berhenti di jembatan, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia memandang sungai yang airnya tinggal mengalir tipis di antara batu-batu besar, lalu tiba-tiba teringat masa kecil ketika ayahnya mengajarinya menangkap ikan di sungai yang sama. Kenangan itu begitu singkat sehingga ia menganggapnya tidak penting. Namun bagaimana mungkin seseorang mengetahui peristiwa yang bahkan tidak ia ceritakan kepada siapa pun?
Dengan jantung yang mulai dipenuhi kegelisahan, ia membalik halaman berikutnya. “Menjelang siang, secangkir kopi akan tumpah dan membasahi halaman yang sedang dibacanya.” Raka tersenyum hambar. Kebetulan, pikirnya.
Akan tetapi, belum sempat senyum itu menghilang, seorang editor magang menyenggol sudut mejanya ketika tergesa-gesa mengambil berkas. Cangkir kopi bergeser, jatuh, lalu menumpahkan cairan hitam yang merembes tepat pada halaman yang sedang terbuka.
Sejak hari itu Raka tidak lagi membaca manuskrip itu sebagai editor. Ia membacanya seperti seseorang yang sedang mengintip dirinya sendiri dari balik jendela. Manuskrip itu tidak pernah meramalkan gempa, kematian, atau bencana besar. Ia hanya mencatat hal-hal kecil yang nyaris tak pernah diperhatikan: seekor burung gereja yang setiap sore hinggap di ambang jendela kantor, satpam tua yang diam-diam menulis puisi pada buku catatannya, seorang perempuan yang selalu menunggu bus sambil membawa bunga krisan, atau suara azan yang terdengar lebih lirih setiap kali hujan turun. Semua terjadi sebagaimana tertulis.
Lalu, pada suatu halaman, Raka menemukan sesuatu yang lebih aneh daripada ramalan apa pun. Di pinggir paragraf terdapat coretan tinta merah. “Tokoh utama terlalu lama hidup dalam cerita orang lain.” Raka memegang pena merahnya. Ia yakin tidak pernah menulis catatan itu. Namun bentuk hurufnya, kemiringan tulisannya, bahkan cara ia memberi garis bawah pada kata terlalu, semuanya persis seperti miliknya.
Malam itu ia pulang membawa manuskrip tersebut. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia membuka laci yang berisi buku harian lamanya. Halaman terakhir ditulis delapan belas tahun silam, beberapa bulan setelah ayahnya meninggal. Setelah itu tidak ada lagi catatan tentang dirinya. Yang tersisa hanyalah jadwal penyuntingan, tenggat penerbitan, dan daftar pengarang yang harus dihubungi.
Tiba-tiba ia sadar bahwa selama ini ia begitu tekun memperbaiki kehidupan tokoh-tokoh fiksi, tetapi membiarkan kehidupannya sendiri berhenti pada halaman yang tidak pernah ia lanjutkan. Senin berikutnya manuskrip datang lagi.
Kali ini judulnya telah muncul. “Orang Yang Lupa Menjadi Tokoh Utama” Dengan napas yang berat, Raka langsung membuka halaman terakhir. Halaman itu nyaris kosong. Hanya ada satu kalimat kecil di sudut bawah. “Silakan sunting akhir cerita ini.” Tangannya gemetar ketika mengambil pena merah.
Selama bertahun-tahun pena itu selalu dipakainya untuk menghapus kata-kata orang lain. Kini, untuk pertama kalinya, pena itu menghadap kepadanya sendiri. Ia menulis perlahan. “Tokoh utama pulang sebelum hari menjadi terlalu malam.” Hanya satu kalimat. Tidak lebih.
Keesokan harinya, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan terjadi. Sepulang bekerja, Raka tidak menuju apartemennya. Tanpa benar-benar memahami alasan yang menggerakkan langkahnya, ia mengemudikan mobil menuju rumah tua peninggalan orang tuanya yang telah bertahun-tahun kosong. Debu memenuhi ruang tamu. Foto keluarga masih tergantung miring di dinding. Di sudut ruang kerja ayahnya, ia menemukan sebuah kotak kayu berisi puluhan surat yang belum pernah dibuka.
Salah satunya ditujukan kepadanya. Surat itu ditulis ayahnya seminggu sebelum meninggal. “Jika suatu hari kau terlalu sibuk memperbaiki dunia, jangan lupa sesekali memperbaiki jalan pulangmu sendiri. Sebab manusia tidak kehilangan arah ketika ia tersesat di hutan, melainkan ketika ia tidak lagi mengenali rumah di dalam dirinya.”
Raka membaca surat itu berulang-ulang hingga senja turun perlahan di sela jendela yang mulai rapuh. Ia merasa seolah seluruh manuskrip misterius itu hanya sedang membawanya menuju kalimat yang terlambat dibaca selama hampir dua puluh tahun. Malamnya, ketika kembali ke kantor untuk mengambil beberapa berkas, ia mendapati meja kerjanya bersih.
Tidak ada paket cokelat. Tidak ada manuskrip. Tidak ada halaman kosong. Yang tersisa hanya pena merah yang selama ini setia menemaninya. Raka menggenggam pena itu cukup lama, lalu meletakkannya kembali di atas meja tanpa rasa tergesa. Untuk pertama kalinya ia mengerti bahwa hidup bukanlah naskah yang menunggu disempurnakan, melainkan cerita yang diam-diam menyunting pembacanya; dan barangkali, selama seseorang masih bersedia membuka halaman baru dengan kerendahan hati, ia tidak pernah benar-benar terlambat untuk menjadi tokoh utama dalam kisahnya sendiri.
Penulis: Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak.