Hikayat dalam Pembentukan Karakter Siswa SMK

[Sumber gambar: AI]
Penulis: Yulia Herliani
Di tengah derasnya arus informasi digital, pembelajaran sastra lama sering dianggap sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan peserta didik. Hikayat, misalnya, kerap dipersepsikan sebagai teks kuno yang hanya berisi cerita kerajaan, tokoh sakti, dan peristiwa-peristiwa yang tidak lagi relevan dengan kehidupan modern.
Akibatnya, pembelajaran hikayat di sekolah sering berhenti pada kegiatan membaca, mengidentifikasi unsur intrinsik, atau menjawab soal-soal pemahaman. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, hikayat menyimpan nilai-nilai karakter yang sangat penting bagi generasi muda, terutama siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja dan kehidupan sosial yang lebih luas.
Dalam konteks Kurikulum Merdeka, pembelajaran tidak lagi berorientasi pada penguasaan materi semata, melainkan pada pengembangan kompetensi dan karakter peserta didik. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan agar siswa mampu memahami, menginterpretasi, merefleksikan, dan menggunakan berbagai teks untuk membangun pengetahuan serta membentuk kepribadian. Di sinilah hikayat memperoleh relevansinya kembali. Hikayat bukan sekadar peninggalan sastra lama, melainkan sumber pembelajaran nilai yang dapat membantu siswa memahami makna keberanian, tanggung jawab, kesetiaan, kerja keras, dan kebijaksanaan.
Kurikulum Merdeka juga menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses belajar. Oleh karena itu, pembelajaran hikayat tidak cukup dilakukan melalui ceramah atau hafalan. Guru perlu menghadirkan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa menemukan sendiri makna yang terkandung dalam teks.
Ketika siswa diajak mendiskusikan mengapa seorang tokoh dalam hikayat rela berkorban demi kepentingan masyarakat atau bagaimana seorang pemimpin mengambil keputusan yang bijaksana, mereka sesungguhnya sedang berlatih memahami nilai-nilai kehidupan. Pembelajaran seperti ini jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar mengingat nama tokoh atau alur cerita.
Pendekatan Deep learning yang mulai banyak diperbincangkan dalam dunia pendidikan memberikan landasan yang kuat bagi pembelajaran hikayat. Deep learning dalam pendidikan bukan sekadar penggunaan teknologi canggih, melainkan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, refleksi kritis, dan keterhubungan pengetahuan dengan kehidupan nyata. Peserta didik tidak hanya mengetahui isi teks, tetapi juga memahami alasan, makna, dan relevansi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Dalam pembelajaran hikayat berbasis Deep learning, siswa dapat diajak untuk menghubungkan cerita dengan pengalaman pribadi maupun realitas sosial di sekitar mereka. Misalnya, setelah membaca sebuah hikayat yang mengisahkan tokoh dengan integritas tinggi, siswa dapat mendiskusikan bagaimana nilai kejujuran diterapkan dalam dunia kerja.
Bagi siswa SMK, pertanyaan seperti ini sangat penting karena mereka sedang dipersiapkan menjadi tenaga profesional yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki karakter yang baik.
Lebih jauh lagi, pendekatan Deep learning mendorong siswa untuk melakukan refleksi.
Setelah membaca hikayat, siswa dapat diminta menuliskan nilai apa yang paling menginspirasi mereka dan bagaimana nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan reflektif semacam ini membantu peserta didik membangun kesadaran diri. Mereka tidak lagi memandang hikayat sebagai cerita masa lalu, melainkan sebagai cermin untuk memahami kehidupan masa kini.
Pembelajaran hikayat juga memiliki potensi besar dalam mendukung pencapaian Profil Pelajar Pancasila yang menjadi ruh Kurikulum Merdeka. Nilai gotong royong, bernalar kritis, kreatif, beriman, mandiri, dan berkebinekaan global dapat ditemukan dalam berbagai hikayat Nusantara. Ketika siswa mengkaji nilai-nilai tersebut secara mendalam, mereka tidak hanya belajar sastra, tetapi juga belajar menjadi manusia Indonesia yang utuh.
Bagi siswa SMK, pembentukan karakter memiliki urgensi yang sangat tinggi. Dunia industri saat ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang menguasai keterampilan teknis, tetapi juga individu yang disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan memiliki etika profesional. Nilai-nilai tersebut banyak ditemukan dalam hikayat. Dengan demikian, pembelajaran hikayat sesungguhnya dapat menjadi jembatan antara pendidikan karakter dan kebutuhan dunia kerja.
Namun demikian, keberhasilan pembelajaran hikayat sangat bergantung pada kreativitas guru. Guru perlu mengubah paradigma bahwa hikayat adalah teks lama yang harus dihafalkan. Sebaliknya, hikayat harus diposisikan sebagai ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Guru dapat menggunakan metode diskusi, proyek, drama, pembuatan konten digital, atau studi kasus yang menghubungkan nilai-nilai dalam hikayat dengan kehidupan nyata siswa. Dengan cara ini, pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna.
Pada akhirnya, hikayat bukan sekadar warisan sastra Melayu yang tersimpan dalam buku-buku pelajaran. Hikayat adalah gudang nilai yang dapat membantu membentuk karakter generasi muda. Dalam kerangka Kurikulum Merdeka dan pendekatan Deep learning, pembelajaran hikayat dapat menjadi sarana untuk mengembangkan pemahaman mendalam, kemampuan reflektif, serta karakter positif peserta didik. Ketika siswa mampu menemukan makna kehidupan di balik cerita-cerita lama, sesungguhnya mereka sedang belajar menjadi manusia yang lebih bijaksana. Dan bukankah tujuan pendidikan yang paling hakiki adalah membentuk manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter?
Penulis: Yulia Herliani, guru Bahasa Indonesia, SMK Profita kota Bandung, Jawa Barat, yang saat ini sedang menyelesaikan studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia di IKIP Siliwangi, sangat hobi membaca dan menulis. Yulia aktif menulis di beberapa jurnal ilmiah dan media daring. Yulia dapat dihubungi melalui surel yuliaherliani1986@gmail.com
Tulisan yang bagus